BALIHO SENYUM

Standar

Beberapa bulan ini pimpii sangat menikmati perjalanan dari rumah menuju tempat kerjanya sebagai loper sebuah koran harian di kota. Ya. dimusim pemilu caleg ini, poster-poster atau baliho para caleg yang berlomba-lomba tersenyum menyapanya memenuhi hampir setiap jengkal trotoar yang ada, terutama di setiap persimpangan dan disetiap muka gang-gang yang dialuinya.

baliho

Baliho-baliho tersebut, dengan berbagai macam ukuran berdiri gagah dengan pakaian kebanggaan, dalam pose terbaiknya, dalam senyum terhangat dan termanisnya. Hm. bahkan seorang caleg yang dikenalnya hampir tidak pernah tersenyum kepadanya, mencoba tersenyum di dalam poster tersebut. Bahkan pimpii juga sudah melihat baliho-baliho caleg yang luarbiasa, aneh bin ajaib di sini.

Juga di sini. Mungkin pimpii saja yang merasa senyum tersebut menjadi seperti sebuah seringai.

Setiap matanya bentrok dengan gambar caleg-caleg tersebut, pimpii membalas senyum mereka dari atas sepeda yang dikayuhnya pelan-pelan. Bukankah senyum itu ibadah, bukankah senyum itu tidak sulit, meski tidak bertatapan muka langsung dengan yang punya gambar, bahkan banyak diantaranya yang pimpii tidak kenal dan tidak pernah ketemui sama sekali, pimpii tetap merasa berkewajiban membalas senyum mereka dengan tulus.
Demikianlah setiap berangkat kerja pimpii tersenyum sepanjang jalan. pimpii senang sudah dapat beribadah dengan senyum. Senyum pimpii tambah mengembang jika melihat ada juga caleg yang berpose melebihi iklan kecantikan atau mungkin iklan shampoo. pimpii senang kotanya jadi tambah semarak, pimpii senang banyak orang yang di’senang’kan dengan hadirnya baliho-baliho tersebut. Para tukang-tukang sablon, tukang cetak poster, tukang bikin baliho dan lain-lain yang terkait dengan pemasangan baliho tersebut pasti akan mengalami peningkatan pendapatan, berarti ada penambahan rejeki.
Pimpii tidak pernah berpikir apakah semua dari mereka yang memajang gambar dirinya di baliho-baliho tersebut akan terpilih menjadi angota legislatif seperti yang mereka inginkan. Pimpii tidak pernah berhitung berapa banyak partai yang ikut pemilu kali ini, berapa banyak caleg yang ikut serta dan berapa orang yang akan duduk di kursi Dewan yang terhormat nantinya. Bahkan muncul pikiran nakal pimpii, jangan-jangan yang akan terpilih nanti adalah caleg yang paling banyak memajang gambar dirinya dan memasang baliho dalam ukuran yang paling besar. Wah-wah. memasang baliho kan perlu biaya, bagaimana nantinya jika ada caleg yang bagus tetapi tidak ada biaya untuk membuat baliho barang sebuahpun. Akankah bisa terpilih?. Hm. pimpii menepis sendiri pikirannya, jika mau jadi caleg ya sudah pasti harus siap modal, batinnya. Perkara mereka harus sampai menjual segala harta yang ada itu mungkin sudah resiko, pikir pimpii lebih jauh. Karena seorang caleg perlu mensosialisasikan dirinya, berdirinya baliho yang memuat gambar terbaiknya dengan motto dan slogan terpilih merupakan tanda nyata bahwa mereka telah siap berkompetisi di dalam perebutan kursi wakil rakyat yang jumlahnya terbatas tersebut. Itu sah-sah saja.
Diam-diam pimpii berkhayal, jika ada uang ia ingin juga memasang baliho, tetapi pimpii tidak akan berpose sendirian, dia akan mengajak Mak Ijah tukang bubur di dekat lapaknya menjual koran, yang setiap pagi menyiapkan sarapan untuknya dan siap untuk dihutangi. (Kadang-kadang pimpii malu juga juga berhutang, karena tahu pendapatan Mak Ijah sungguh tidak seberapa). Kemudian pimpii juga akan mengajak Amus, tukang sapu pasar yang berkerja tanpa lelah dan tidak sepatahkanpun keluar omelan dari mulutnya karena orang masih suka membuang sampah sembarangan, bahkan juga jika setiap hari sampah bertambah banyak, sementara gajinya tidak pernah ditambah-tambah. Kemudian ada Engkol, satpam pasar yang memberikan rasa aman bagi semua pedagang kecil di pasar kecil tersebut, meski imbalannya tetap saja kecil. Lalu ada Erol, tukang parkir yang bertanggung jawab terhadap tertibnya parkir kendaraan ditengah semrawutnya lalulintas orang-orang yang berbelanja di pasar tradisonal tersebut karena areal parkir terbatas, namun Erol jarang mengeluhkan pendapatannya yang juga ‘semrawut’. Tak lupa juga Sudir akan mengajak berpose bersama Mang Rode, tukang becak tua reot yang sudah bertahun-tahun setia mengantarkan belanjaan para pedagang pembeli ditengah-tengah persaingan dengan angkutan modern lainnya, sehingga penghasilan Mang Rode juga ikut-ikutan reot. Dan masih banyak lagi teman-teman Sudir yang turut memberi denyut kehidupan pasar tradisional tersebut. pimpii bahkan takut memikirkan bagaimana nasibnya dan teman-temannya kelak jika pasar tradisional misalnya akan di modernisasi. Wah-wah. Pimpii terlalu jauh ngelantur.
Tapi pimpii masih punya sedikit harapan, siapa tahu dengan berdirinya baliho yang memajang gambar dirinya dan teman-temannya tersebut, orang tidak akan lupa untuk turut memikirkan nasib mereka. Semoga.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s