DESA TERTINGGAL

Standar

Belum lama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri menyebutkan, selama periode Maret 2007-Maret 2008, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1,42 juta. Sedangkan penduduk miskin di daerah perkotaan hanya berkurang 0,79 juta orang. Hal itu disebabkan kondisi sektor pertanian, seperti upah riil buruh tani, saat ini, mengalami peningkatan. Rata-rata upah riil harian buruh tani naik 0,90 persen selama periode Januari-April. Pada saat yang sama juga terjadi panen raya di wilayah perdesaan. Hal itu berimbas pada perbaikan kehidupan penduduk di perdesaan, yang 70 persen bekerja di sektor pertanian.

Meski demikian, BPS juga menyebutkan, kendati menunjukkan prosentase pengurangan yang signifikan, namun penduduk miskin masih berkantong di desa-desa. Kenyataan tersebut hendaknya menjadi acuan bahwa penanggulangan kemiskinan di perdesaan dan perluasan kesempatan kerja bagi penduduk lokasi di wilayah perdesaan, merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dan memerlukan perhatian, fasilitasi serta dukungan khusus. Salah satunya melalui program penanggulangan kemiskinan.

Dalam upaya ini, disamping besarnya masyarakat miskin di perdesaan, ada beberapa kriteria desa tertinggal yang dapat dijadikan ukuran seperti: (1) jalan utama desa; (2) lapangan usaha mayoritas penduduk; (3) fasilitas pendidikan; (4) fasilitas kesehatan; (5) tenaga kesehatan; (6) sarana komunikasi; (7) kepadatan penduduk per km2; (8) sumber air minum/masak penduduk; (9) sumber bahan bakar penduduk; (10) persentase rumah tangga pengguna listrik; (11) persentase rumah tangga pertanian; (12) keadaan sosial ekonomi penduduk; (13) kemudahan mencapai puskesmas/fasilitas kesehatan lain; (14) kemudahan ke pasar permanen; (15) kemudahan mencapai pertokoan.

Ulasan di atas disunting dari website pnpm-mandiri perdesaan, selengkapnya dapat dibaca di http://www.ppk.or.id

Nah, terkait dengan kriteria desa tertinggal versi BPS di atas yang sudah sangat-sangat lengkap, saya punya pendapat lain mengenai desa tertinggal tersebut, tanpa berniat mengurangi rasa gembira karena menurut data di atas jumlah kemiskinan di perdesaan telah berkurang.

Kata ‘desa tertinggal’ dapat berarti desa yang tidak diikutsertakan, tidak diajak serta atau sengaja ditinggalkan. Jika kita berasumsi pemerintahan kita sekarang sedang mengemudikan kendaraan raksasa yang membawa seluruh bangsa tercinta ini menuju ranah kemandirian, kemakmuran, kesejahteraan dlsb, maka desa yang ‘tertinggal kereta’ diakibatkan terlupa — baik karena sengaja maupun tidak sengaja — diajak serta, sebab saking banyaknya desa yang harus diangkut di seluruh negeri ini dapat dikategorikan ‘desa tertinggal’. Desa yang ‘tertinggal kereta’ tersebut dapat saja dikatakan tidak pernah diajak untuk turut serta (berpartisipasi) membangun desanya, tidak pernah ditawarkan untuk menentukan kebutuhan mereka (otonomi) dan melaksanakannya sendiri (desentralisasi) karena dianggap tidak mampu, desa yang pernah juga diajak tetapi desa tersebut menolak saking kecewanya dengan ajakan-ajakan sebelumnya yang setengah hati (tidak transparan), desa-desa terpencil yang tidak nampak saking jauhnya dan terhalang hutan belukar kepentingan-kepentingan lainnya yang menurut pemerintah harus didahulukan terlebih dahulu.
Maka kita patut bersyukur dan dapat menaruh harapan kepada program pemerintah yang diluncurkan dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Salah satu program tersebut adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) yang secara nyata hadir di tengah-tengah mereka masyarakat desa hingga ke dusun terpencil yang tidak pernah tertera di peta negara tercinta ini. Paling tidak dapat membesarkan hati desa-desa tersebut bahwa seyogjanya mereka telah diajak untuk turut serta dalam gerbong kereta raksasa negeri ini menuju tanah harapan.

Tidak mudah. Karena teman-teman fasilitator harus dapat berbaur dengan masyarakat desa dengan segudang kegiatan yang dirancang sedemikian rupa agar tumbuh pemampuan masyarakat melalui pertemuan-pertemuan musyawarah, pelatihan-pelatihan dan praktek langsung di lapangan dan sejenak melupakan kenyamanan tinggal di kota. Karena di hadapan mereka terbentang lembah, gunung, sungai, bahkan laut yang harus diseberangi (tak cukup rasanya biaya perjalanan yang harus dikeluarkan dengan imbalan gaji yang diterima) untuk mengajak masyarakat desa ikut serta naik ‘gerbong kereta’ sehingga ke depannya nanti tak perlu lagi diajak dan ‘disuruh-suruh’ karena sudah tumbuh minat itu dengan sendirinya (pemberdayaan). Karena semua adalah kunci dari pemberdayaan itu sendiri yaitu bertumpu kepada pembangunan manusia Indonesia.

Semoga….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s