DOA 240 JUTA

Standar

Salam untuk bangsaku,
Beberapa minggu belakangan ini jika membaca berita-berita di koran dan menonton siaran berita di televisi, Pimpii berpikir keras dan mengerenyitkan kening dalam-dalam.  Euforia Pemilu sungguh luar biasa, sehingga dapat dipertanyakan apakah ini Pesta Demokrasinya para caleg atau pestanya rakyat Indonesia.

Bayangkan, ketika konon sudah 2.200 Milyar rupiah  (baca : 2,2 Trilyun) digelontorkan oleh partai dan para caleg untuk melakukan sosialisasi demi perolehan suara agar dapat menduduki kursi empuk nan menggiurkan di Lembaga Legislatif  di negeri ini.   Entah bagaimana membedakan partai dan caleg yang murni hendak membangun negeri ini ataukah hanya hendak membangun partai dan diri sendiri saja,  ditengah  krisis kepercayaan kita terhadap yang terhormat anggota dewan negeri ini  yang sedang diuji dengan kasus-kasus ‘miring’ mereka.  Belum lagi mengingat permasalahan negeri ini yang masih didera permasalahan pokok akan kesejahteraan masyarakatnya.  Belum lagi mengingat akibat yang dirasakan rakyat yang terkena bencana alam di sana dan di sini.  Belum lagi mengingat keadilan dan hati nurani  di negeri ini yang bagaikan menjelma menjadi jarum ditumpukan jerami.  Belum lagi……

doaw

Bandingkan, jika untuk mendanai sebuah program pemberdayaan masyarakat –  yang salah satu tujuannya adalah untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan di kecamatan yang tertinggal – jika diperlukan dana lebih kurang 1 milyar untuk 1 tahun untuk 1 kecamatan, sebesar apapun uangnya, cukup atau tidak cukup yang jelas akan ada 2.200 kecamatan di negara ini yang dalam tahun ini juga dapat melaksanakan pembangunan yang mereka butuhkan, sekecil apapun, cukup atau tidak cukup.  Yang sangat mungkin termasuk kecamatan tempat tinggal kita.

Tetapi ini sudah terjadi.  Sehingga Pimpii berpikir keras dan mengerenyitkan kening dalam-dalam, siapa yang bertanggungjawab terhadap semua ini, kepada siapa kita meminta tolong untuk dapat membuktikan bahwa seyogyanya negara kita adalah negara yang gemah ripah loh jinawi.  Atau kita memang sudah terbiasa dengan kondisi yang demikian, sehingga menganggap semua itu adalah hal yang wajar dan selayaknya terjadi.  Atau memang kita sudah tidak mampu lagi untuk berfikir dan bertindak selain pasrah dengan kondisi tersebut, karena kita sudah terlalu capek untuk protes sebab tidak tahu lagi mau protes kepada siapa, karena kita sudah terlalu lelah untuk bertindak dalam demo-demo turun ke jalan untuk menuntut keadilan dan kesejahteraan karena nyaris tidak ada manfaatnya. Atau kita memang diam-diam sepakat memang beginilah sebenarnya kondisi negeri ini. Sungguh menggenaskan.

Bangsaku, yang jumlah kalian lebih dari 240 juta ini,
tidak adil jika Pimpii membandingkan kalian dengan saudara serumpun kita di negara tetangga yang secara kasat mata mereka lebih makmur dari kita (sebab banyak pula dari saudara kita di negeri ini yang berlimpah kemakmuran dan kekayaan). Tidak adil Pimpii membanding-bandingkan karena jumlah mereka lebih sedikit dari kita, tidak adil — sebab etos kerja mereka lebih tinggi dari kita, tidak adil — karena pemerintah mereka lebih baik dari kita, tidak adil — karena kekayaan alam mereka lebih banyak dari kita, tidak adil– karena pendidikan mereka lebih tinggi dari kita, tidak adil– karena mereka lebih menguasai teknologi dari kita.

Tetapi bangsaku yang tercinta, apa benar demikian?. Apakah kita tidak sama dengan mereka?, atau apa kita tidak bisa sama dengan mereka?
Pimpii berpikir keras dan mengerenyitkan kening dalam-dalam, apa yang harus kita perbuat?.
Hampir Pimpii menjawab : TIDAK ADA!.

Tetapi timbul gagasan Pimpii, gagasan yang menurut Pimpii sangat mudah, murah dan siapa tahu efektif.
Bagaimana jika pada saat bersamaan kita seluruh penduduk Indonesia ini berhenti sejenak pada satu waktu dari aktifitas duniawi ini. Berhenti sejenak, diam, hening, mengingat sekenanya apa yang sudah kita perbuat, yang telah kita perbuat untuk diri kita sendiri, untuk keluarga kita, untuk tetangga kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita, untuk negeri ini, untuk bangsa ini.

Sekaranglah saatnya, ketika kita diberikan kesempatan untuk memilih mereka yang akan menjadi pemimpin kita,  kita dapat menentukan pilihan dengan benar.  Sehingga pilihan kita, siapapun itu adalah mereka yang layak disebut sebagai PEMIMPIN yang akan memimpin kita dan negeri ini menuju kesejahteraan BAGI SEMUA yang akan mewujudkan mipi-mimpi kita.

Mari kita sama-sama menengadahkan tangan, berdoa, menurut agama dan keyakinan kita masing-masing — meminta kepada yang MAHA KUASA DI ATAS SANA untuk menunjukkan kebenaran akan pilihan kita demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini.

Dapat kita bayangkan jika kita dapat bersama-sama 240 juta orang saudara sebangsa kita serentak berdoa, sebentar saja — hanya sebentar — langit Indonesia akan tumpah ruah dengan seruan pengharapan akan perubahan, gempita dengan doa permohonan akan kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dan keselamatan bangsa ini.

Insya Allah doa kita akan di dengar dan dikabulkan oleh SANG PENCIPTA. Bukankah dengan keyakinan dan keinginan yang sama kita mampu melakukan segalanya. Amiiin…

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s