130 Tahun Kartini : Riwayatmu kini

Standar

ra-kartini1

21 April 2009 — Hari ini tepat 130 Tahun Raden Ajeng Kartini dilahirkan pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah.

Mari nyanyikan lagu berikut :

Ibu Kita Kartini

Ibu kita Kartini, putri Sejati

Putri Indonesia, harum namanya

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa

Pendekar kaumnya untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya

Bagi Indonesia

Kemudian fakta-fakta berikut :

  • Kartini adalah seorang Visioner dari kaum hawa yang pemikirannya telah jauh melampui jamannya
  • Bangsa Indonesia hanya sekilas mengenal Kartini dari kumpulan surat-surat yang berjudul ” Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dibukukan dan diterjemahkan oleh Armijn Pane
  • Sebagian dari kita bahkan hanya mengenal perjuangan Kartini terkait pembatasan hak menikah ala Jawa (dijodohkan)
  • Kartini tidak pernah tinggal di eropa, tetapi komunikasi melalui suratnya menembus belantara Eropa, terutama Belanda
  • Kartini meninggal pada umur 25 tahun. Tepat 13 September 1904 setelah melahirkan bayi laki-lakinya dari pernikahan pada 12 Nopember 1903 dengan Bupati Rambang
  • Usia Pernikahannya hanya setahun. Pernikahan akibat perjodohan orangtua yang sekaligus mengubur cita-citanya menimba ilmu kedokteran di eropa.

Sesungguhnya buah karya pemikiran (cita-cita) Kartini tak terbatas hanya pada hak permepuan dalam memilih pasangan hidupnya. Kartini merupakan sosok perempuan yang mempunyai visi jauh ke depan yang komprehensif dalam mengarungi kehidupan. Pergolakan dan perlawanan ala Kartini terhadap tradisi jawa kuno, lebih banyak dipengaruhi situasi global. Dengan derajat kosmopolitan yang tinggi Kartini pun menjadi sangat berbeda dengan umumnya perempuan jawa yang serba menurut kehendak orang tua.

Kartini ingin sejajar dengan perempuan di dunia maju. Kartini ingin keluar dari kungkungan adat dan pemikiran primordial. Tidak saja terkait penguasaan ilmu yang sejajar, melainkan hingga hak-hak dasar manusia yang setara. Kartini berpandangan wanita pun mempunyai hak menentukan sikap.

130 tahun kemudian. Telahkah semangat dan obsesi Kartini merasuki jiwa raga kaum perempuan Indonesia? Ketika perempuan masih dipandang sempit — bak madu, perdagangan perempuan, remang hiburan malam, KDRT, seks dibawah umur, dll.

Pandanglah. 30% eksistensi perempuan di parlemen RI pun sulit dipenuhi. Sejak periode 1950, prestasi tertinggi baru 13% (1987-1992). Bahkan peride pemilu lalu hanya 8,8% di DPR RI, 6% di DPRD Propinsi dan 2,5% di DPRD Kabupaten/kota. Budaya patriarki telah menyebabkan perempuan terkebelakang termasuk di dunia politik.

Bangkitlah perempuan. Meski Ratu Atut telah menjadi Gubernur, dan perempuan lainnya ada yang menjadi bupati serta perempuan lainnya lagi menjadi pucuk pimpinan dilembaga swasta — Momentum hari Kartini ini layak dijadikan renungan agar perempuan mampu sejajar dengan laki-laki dalam mengisi kehidupan dan berkiprah bagi kesejahteraan bangsa ini. Tetapi tetaplah ingat akan kodratmu sebagai perempuan, sebagi istri dari suamimu, sebagi ibu dari anak-anakmu.

2 responses »

  1. Sisi Lain Kartini : Pelopor Kebangkitan Nasional

    Sejarawan George Mc Turnan Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution Indonesia, mengatakan bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia melainkan Kartini. Sementara itu Profesor Ahmad M. Suryanegara, dalam buku Menemukan Sejarah, menuturkan Kartini tidak hanya berjuang untuk perempuan, tapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan. Asvi Warman Adam menyimpulkan pula Kartini tidak hanya tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga pelopor kebangkitan nasional.

    Selengkapnya
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/kartini-pelopor-kebangkitan-nasional.html

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s