Helikopter Bolkow NBO-105 Milik TNI AD Jatuh : Prajurit Terlatih TNI Bisa-Bisa Habis Karena Kecelakaan

Standar

Tidak lama berselang setelah kita dikejutkan dengan peristiwa nahas jatuhnya pesawat Hercules C-130 milik TNI AU (20/5), kemarin (8/6) Pesawat Helikopter Milik TNI-AD jenis Bolkow NBO-105 dengan nomor registrasi HS-7112, jatuh di daerah Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat.

Dalam kecelakaan Helikopter yang membawa 5 orang penumpang ini, dua orang tewas yakni Kolonel Infanteri Ricky Samuel dan Kapten Infanteri Agung. Tiga lainnya luka berat yakni Pilot Kapten Penerbang Hadi Ismanto, Kopilot Lettu Penerbang Sasongko, serta Lettu Infanteri Agus Sudarso.

img4049rr0

Bo 105 adalah sebuah helikopter ringan , serbaguna , bermesin ganda , yang dibuat oleh Bölkow dari Stuttgart, Jerman. Produksi dilanjutkan oleh Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) yang menjadi bagian dari Eurocopter. Eurocopter memproduksi Bo 105 sampai 1997. Jalur produksi Bo 105 kemudian digantikan jalur produksi EC 135.

Di Indonesia NBO-105 diprodusi oleh IPTN (sekarang PT DI) di bawah lisensi dari MBB (sekarang Eurocopter) semenjak 1976; total ada 123 heli jenis ini yang diproduksi di Bandung dan digunakan untuk keperluan dalam negeri dan ekspor (salah satunya ke Yordania) . Varian yg diproduksi oleh IPTN adalah NBO-105 CB, NBO-105 CBS (versi yang diperpanjang mulai produksi ke 101 dan seterusnya) dan NBO 105S (versi diperpanjang juga). Dari keseluruhan pesawat , hanya rotor dan transmisi yg disuply oleh Jerman.

Adapun spesifikasi umumnya adalah sebagai berikut :

  • Kru= 1 atau 2 pilot
  • Kapasitas= 4
  • Panjang= 11.86 m
  • Lebar= 9.84 m
  • Tinggi= 3.00 m
  • Bobot kosong= 1,301 kg
  • Beban Muatan = 1,199 kg
  • Berat maksimum lepas landas (MTOW)= 2,500 kg
  • Mesin (prop)= Allison 250-C20B
  • Tipe prop= turboshaft engines
  • Jumlah prop= 2
  • Power= 298 kW
  • Power pada ketinggian= 400 shp
  • Kec.maks = 242 km/j
  • Kec maks pada ketinggian= 131 knots
  • Jarak= 564 km

Di tempat terpisah, pengamat militer dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Andi Widjojanto, Selasa di Jakarta, mengatakan, sejumlah kecelakaan bertubi-tubi yang menimpa alutsista TNI, yang merenggut korban jiwa, sangat merugikan. Kerugian itu tidak hanya berdasarkan jumlah dan nilai persenjataan yang rusak atau hancur, melainkan juga akibat kehilangan sumber daya manusia (SDM) personel TNI yang terlatih dan profesional, seperti pilot dan awak pesawat, maupun helikopter dan personel pasukan khusus.

Menurut Andi, yang paling sulit digantikan adalah membentuk kembali pasukan berklasifikasi khusus, apalagi mereka yang pernah dikirim belajar ke luar negeri. ”Pembentukan pasukan komando butuh pelatihan selama enam bulan, ditambah berbagai program pelatihan khusus rutin yang diselenggarakan per tahun. Indeksnya, per prajurit komando membutuhkan biaya sedikitnya 300 dollar AS per hari,” ujarnya.

Andi memprihatinkan berulangnya sejumlah kecelakaan pesawat militer. Ini dapat berdampak buruk pada mental dan moral prajurit TNI secara keseluruhan. Proses demoralisasi terjadi sebab muncul anggapan keselamatan prajurit TNI sama sekali tidak diperhatikan.

Menurut Andi, sudah saatnya Mabes TNI dan Dephan membentuk tim khusus untuk mencari penyebab sejumlah peristiwa kecelakaan belakangan ini. Tak hanya mengungkap penyebab teknis, tim gabungan itu juga bertugas mengungkap sebab struktural kecelakaan alutsista.

Caranya, dengan menghadirkan pejabat yang bertanggung jawab, mulai dari proses pengadaan, pemeliharaan, hingga perawatan alutsista. Jika diperlukan, DPR dapat meminta presiden membentuk tim itu dengan surat keputusan presiden,” katanya.

Jika estimasi kebutuhan biaya mendidik prajurit TNI berklasifikasi komando mencapai 300 dollar AS per hari, biaya yang diperlukan untuk mendidik seorang pilot jauh lebih besar lagi. Hal itu disampaikan mantan Panglima Komando Udara Pertahanan Nasional Marsekal Madya (Purn) Djoko Poerwoko.

Djoko menuturkan, untuk mendidik pilot sampai punya kemampuan terbang diperlukan anggaran sedikitnya Rp 1 miliar. Dana sebesar itu dipakai untuk pendidikan selama 20 bulan atau setara dengan 220 jam terbang. Untuk mengirim seorang pilot pesawat tempur belajar ke luar negeri, biaya yang dibutuhkan sekitar 1,5 juta dollar AS.

Tidak cuma itu, lanjut Djoko, dibutuhkan dua sampai tiga tahun lagi untuk mendidik seorang pilot menjadi berkategori full operational. Untuk menjadikan berkategori pilot kombatan, pendidikan itu ditambah lagi per tiga bulanan. Setiap tiga bulan seorang pilot harus berlatih terbang malam, terbang dengan simulator minimal 15 jam, penembakan, navigasi, dan emergency.

”Biaya per jam terbang setiap pesawat berbeda-beda. Sukhoi Rp 500 juta per jam terbang, F-16 sekitar Rp 75 juta per jam terbang, Hercules C-130 Rp 20 juta per jam terbang, dan Fokker sekitar Rp 10 juta per jam terbang. Memang tak murah,” ujarnya.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengakui kecelakaan kali ini dan yang terjadi beberapa waktu belakangan sebagai suatu kehilangan besar bagi TNI. Namun, ia tak khawatir kehilangan yang terjadi akibat tewasnya prajurit TNI terlatih dalam sejumlah kecelakaan itu bakal menjadi masalah. Dalam sistem pengembangan kekuatan di TNI ada mata rantai sehingga kekurangan bisa selalu tergantikan.

”Saya prihatin atas kehilangan besar ini. Jika dalam kecelakaan sebelumnya yang tewas dari pasukan khusus TNI Angkatan Udara, sekarang dari TNI Angkatan Darat. Belum lagi pilot dan kru. Mereka prajurit TNI terbaik yang dididik dengan baik,” ujar Theo Sambuaga, Ketua Komisi I DPR.

Mantan Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) Prabowo Subianto mengakui kehidupan kemiliteran penuh dengan risiko. Tak ada yang menginginkan kecelakaan terjadi. Ia juga membenarkan ada banyak masalah terkait persoalan itu, tetapi tak perlu dipolitisasi.

Di Semarang, Jawa Tengah, Selasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, kecelakaan helikopter TNI di Cianjur disebabkan kondisi cuaca yang buruk. Karena itu, ia meminta TNI dalam menjalankan misi latihan atau apa pun, kecuali tugas pertempuran, melihat faktor cuaca.

Di Mojokerto, Jawa Timur, Selasa, Wakil Presiden M Jusuf Kalla meminta masyarakat menunggu hasil penyelidikan penyebab jatuhnya helikopter jenis Bolkow 105 milik TNI AD di Desa Situhiang, Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat. ”Bisa karena cuaca, bisa teknis, atau kesalahan,” ujarnya.

Pustaka 1

Pustaka 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s