In Memoriam WS Renda si “Burung Merak”

Standar

Masyarakat Indonesia kehilangan sosok seorang Penyair sekaligus Kritikus. Penyair WS Rendra ‘pergi untuk selamanya’, Kamis (7/8) malam sekitar pukul 22.00 WIB, di RS Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat.

Wahyu Sulaiman Rendra “si Burung Merak” meninggal pada usia 74 tahun. Dia meninggal karena penyakit jantung koroner yang dialaminya dan membuat kondisi kesehatannya memburuk dalam sebulan terakhir. Dalam tempo sebulan, Rendra pun harus keluar masuk Rumah Sakit untuk menjalani perawatan.

ws-rendra

WS Rendra selama hayatnya dikenal sebagai Penyair yang kritis terhadap Pemerintah. Pria yang akrab di sapa Willy memiliki kelebihan suara lantang dan mahir memainkan irama, tempo serta handal membakar emosi penonton. Karena itu jugalah, Rezim Orde Baru yang berkuasa di Indonesia dulu seringkali gerah dan kepanasan oleh karya-karya Rendra. Bahkan dia sempat di ‘Prodeo’ penguasa tahun 1978.

Pria yang lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, semua digenggamnya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan ‘terbang’ hingga ke luar negeri.

Tidak hanya sajak dan puisi yang sering mengalami tekanan kekuasaan, dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor juga pernah dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

Selain memiliki bakat, Rendra yang lulusan Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada terus mengisi kemampuannya dalam dunia seni. Termasuk dengan menimba ilmu di American Academy of Dramatical Art, New York, USA.

Sekembalinya dari Amerika pda tahun 1967, pria tinggi besar berambut gondrong ini mendirikan bengkel teater di Yogyakarta. Tak lama bengkel teater tersebut ia pindahkan ke Citayam, Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Kini, si ‘Burung Merak’ telah terbang meninggalkan dunia manusia.

co-pas : EraBaruNews

2 responses »

  1. mbah surip bisa tiada…..begitupun si burung merak telah “terbang” menuju PEMILIKNYA, tinggal kita….kita yang masih hidup dan menjalani kehidupan ini memaknai apa yang ditinggalkannya untuk kita dan generasi mendatang…..supaya lahir mbah surip mbah surip dan “burung merak” lainnya…..semoga.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s