Gila! Malaysia Juga Klaim Tari Pendet, Namun Deplu Imbau Jangan Terprovokasi?

Standar

MALAYSIA kembali mengklaim budaya Indonesia, tarian pendet, Bali menjadi budaya mereka yang dicantumkan dalam iklan visit year mereka. Ingat! Sebelumnya, mereka telah mengklaim lagu rasa sayange, angklung, reog Ponorogo, batik, Hombo Batu, dan Tari Folaya. Benarkah?

Hal ini menjadi pemberitaan yang ramai di dunia maya.  Berbagai opini merebak.  Benarkah Malaysia meng-klaim budaya Indonesia, atau memang budaya tersebut milik Malaysia. Jadi justru Indonesia yang mengaku-ngaku?

Orang Indonesia jelas berang, tapi coba simak pengakuan Anwar Ibrahim mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia :

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memang mengakui ada beberapa kebudayaan asli Indonesia yang diklaim Malaysia. Anwar pun mengkritik para pemimpin di Malaysia yang dinilai terlalu sombong dalam menghadapi persoalan yang satu ini.

“Memang bertahun-tahun keangkuhan pemimpin Malaysia harus dihentikan,” kritik Anwar Ibrahim usai memberikan kuliah umum di Auditorium Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Jumat, 5 Desember 2008.

Anwar pun sejak kecil sudah sering mendengar lagu “Rasa Sayange.” Malah, Anwar sering menembangkan lagu yang berasal dari daerah Ambon itu. “Lagu Rasa Sayange dari kecil sudah saya dengar. Sering saya nyanyikan, tapi setelah saya matang sedikit, baru saya sadar (ini bukan milik kebudayaan Malaysia),” ujarnya.

Tidak hanya lagu Rasa Sayange, Anwar pun sering melantunkan lagu Bengawan Solo, yang juga sempat diributkan. Anwar kembali mengakui, bahwa Bengawan Solo itu asli Indonesia. “Lagu Bengawan Solo memang sering dinyanyikan, tapi Solo itu kita kan tahu ada dimana,” jelas dia.

Nah! Namun Pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri jusrtu menghimbau agar masyarakat Indonesia tidak terprovokasi.

“Kita harus lihat dulu seperti apa. Jangan mudah terprovokasi,” ujar Juru Bicara Deplu Teuku Faizasyah di kantornya Jl Pejambon, Jakarta, Jumat (21/8/2009).

Faizasyah mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti hal tersebut dengan menghubungi perwakilan Indonesia di Malaysia untuk memberi informasi yang sebenarnya terjadi.

Sementara pihak ramai menganggap Pemerintah Indonesia terlalu lembek menanggapi hal tersebut.  Simak :

Budayawan, Radhar Panca Dahana, mengatakan pengklaiman budaya Indonesia oleh Malaysia untuk kesekian kalinya merupakan kesalahan pemerintah Indonesia sendiri. “Ya tidak apa-apa lah, kita juga suka mengambil budaya lain untuk untuk promosi,” katanya kepada Republika, Rabu (19/8).

Ia menilai kecolongan budaya tersebut sebenarnya sebuah cermin atau refleksi. Ia menilai kita terluka dan malu, karena kita sadar sebagai pemilik kebudayaan itu kita tidak memperhatikannya. “Selama ini kebudayaan dipinggirkan, pemerintah dan masyarakat tak lagi peduli,” ujarnya.

Sedangkan negara lain, seperti Malaysia, kata Radhar, membutuhkan ekstensi kebudayaan, karena kebudayaan adalah senjata terbaik untuk diplomasi internasional. Potensi bisnisnya bagus. “Malaysia tahu mereka kekurangan budaya, mereka pintar melihat kebudayaan negara tetangganya, dan mereka menghargai budaya untuk mencari keuntungan, sedangkan pemerintah kita tidak peduli. Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya,” katanya.

Untuk itu, kata Radhar, kedepannya agar Indonesia tidak kecolongan lagi, pemerintah harus perhatikan kebudayaan itu. “Kita majukan budaya kita supaya kita ada di depan, munculkan budaya kita dalam upacara-upacara, acara-acara, jangan hanya lagu-lagu masa kini yang dinyanyikan oleh Presiden kita,” tandasnya.

Jelas kita tidak pernah meragukan bahwa semua budaya yang diklaim tersebut asli milik Indonesia.  Yang asli milik Malaysia namun tidak pernah mereka klaim hanyalah Noordin M. Top!

Pustaka : RepublikaOnline dan VivaNews

6 responses »

  1. Wah, memang sudah seharusnya kita maupun pemerintah Indonesia mulai mawas diri. jaga dan pelihara baik-baik apa pun aset yang kita punya, terutama kebudayaan yang merupakan warisan nenek moyang kita. jangan sampai klaim seperti ini terulang di kemudian hari. terlepas siapa yang salah maupun benar, sudah sepantasnya pemerintah malaysia bertanggung jawab soalnya tari pendet dijadikan salah satu content dari iklan pariwisata resmi mereka.
    kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang

    Suka

  2. Kayaknya Pemerintahan kita disepelekan ma Malisia tuh.
    Soale udah banyak klaim-klaiman.
    Atau apa memang masyarakat kita yang kurang peduli terhadap kebudayaan bangsa sendiri.
    Jadi begitu mudahnya Malisia mengklaim tari pendet menjadi miliknya

    Suka

  3. Dilema orang kita, Sependapat dengan nusantaraku. Budaya asli kita bnyak dilupakan n di tinggalkan, tergantikan dg budaya asing yg lbh modern. Saat budaya yang sdh dilupakan di klaim milik orang lain, baru ingat, bahkan ngotot n mencak2 sprti cacing kepanasan. Btw, Yg ngeklaim jg harusny konfirmasi dulu dunk dg yg punya.

    Suka

  4. Sebagai anak bangsa Indonesia, saya bangga dengan keaneka ragaman budaya Indonesia. Tapi sekarang banyak generasi penerus yang lupa akan kebudayaan daerahnya. Tapi, Malaysia lebih keterlaluan. Budaya daerah negara orang diakui sebagai kebudayaannya.

    Suka

  5. Ha…tertawa….sekaligus malu…malu…
    Tertawa dengan cara pemerintah kita menangangi hal ini, tertawa pula pemalingan Malaysia.
    Malu…karena sebagai generasi muda bangsa, kita sudah kehilangan cinta pada budaya bangsa. Ketika dicuri, diklaim, kita baru ribut-ribut….

    Suka

  6. saya bangga juga kebudayaan kita banyak diklaim malaysia..artinya malaysia iri dengan kayanya kebudayaan kita..biarlah diklaim malaysia, jika yang pemilik aslinya memainkan kebudayaan itu, tentu rasanya lebih orisinil kan..jika yang mencontoh maka rasanya sedikit aneh kan..
    just opinion..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s