Jika Koteka-pun Di klaim oleh Negara Lain!

Standar

Jika Koteka-pun Di klaim oleh Negara Lain! Judul di atas memang mengada-ada.  Tapi tunggu dulu. Mari simak fakta-fakta berikut :

Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku. Hitung saja, jika masing-masing suku bangsa tersebut mempunyai 2 saja budaya khas/adat yang tidak dimiliki di tempat lain, berarti Indonesia mempunyai lebih dari 1.480 jenis budaya/adat yang merupakan kekayaan tradisi tidak ternilai harganya.

Lalu ini. Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia. Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa.

Kemudian ini. RI merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni). Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).  Siapa yang mampu menghitung seberapa besarnya kekayaan yang terkandung di dalamnya.

Terus ini. Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Amboi, seperempat panjang pantai di dunia milik Indonesia.  Berarti 75 % lainnya dibagi-bagi untuk sekian ratus Negara yang ada di dunia ini. Bayangkan saja potensi yang terkandung didalamnya semisal kekayaan hayati seperti ikan misalnya.

Selanjutnya kenangkan, mengapa Indonesia baru tersentak, seakan dijitak dan seperti tersedak setelah salah satu ‘miliknya’ di klaim oleh negara lain.  Sebut saja kain batik, angklung, lagu Rasa Sayange dan yang terakhir tari Pendet.

Bolehkah disebutkan Indonesia tidak pernah memperdulikan miliknya sendiri?.  Pahit memang, jika mengingat Indonesia terkesan kurang memperhatikan ‘asset’ yang dimilikinya.  Lihat saja, dari belasan ribu pulau yang dimilik Indonesia, ternyata yang baru didaftarkan ke PBB baru 4.981 pulau.  Jadi baru kurang dari 30%.  Tentu saja 70% yang lainnya punya potensi untuk diakui Negara lain atau malah dijual sekalian tanpa ketahuan!

Lalu sudahkah ribuan adat budaya mulai dari lagu daerah, kesenian daerah, alat musik, tari-tarian,  hingga upacara adat  dan segala sesuai yang terkait seperti properti adat dan bahasa, juga flora dan fauna-nya di daftarkan dan dipatenkan sebagai ‘made in Indonesia’.  Kemudian diangkat derajat martabatnya melalui pembinaan atau apapun namanya agar dapat tetap lestari dan tidak ada salahnya dijadikan salah satu modal untuk menarik wisatawan mancaranegara yang berujung pada devisa negara dan mendatangkan pendapatan bagi pelaku adat tersebut.  Meskipun kemudian tidak semua dari adat budaya yang agung nan luhur tersebut  ‘diperjualbelikan’.

Atau kita harus menunggu sehingga ada Negara lain yang mengakuinya dahulu baru kita mencak-mencak seperti monyet dirampas barang miliknya? Begitukah?.  Atau nanti sehingga bahasa Jawa atau Koteka-pun di klaim oleh Negara lain……..

5 responses »

  1. Penyebab masalah: Karena Pemerintah (pejabat2-nya) gak bisa diandalkan (madesu)…cuma maunya dapet duit gede (uang haram dari hasil projek2+ KKN)….prinsip aparat pemerintah dari dulu hingga sekarang: “Rakyat mati, emangnya gue pikirin…Yang penting gue kaya!”

    Solusinya: Pihak swasta harus diberikan kuasa/wewenang mutlak untuk mempatenkan budaya-budaya anak bangsa di tanah air Indonesia.

    Kalau pendapat sy ini ada salah, mohon diralat…

    THNX

    Suka

    • pendapat yang tidak salah, namun tidaklah juga benar semuanya. Mungkin harus dimulai dari niat baik pemerintah untuk mengamankan asset anak bangsa tersebut. Sebab pemerintah sudah punya yang namanya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau apalah namanya sekarang. Hanya saja mungkin, proyek mempatentkan budaya anak bangsa bisa dianggap usaha ‘nirlaba’ belaka. Idealnya pelaku atau pemilik budaya-budaya tersebut proaktif mendaftarkannya ke Departemen yang bersangkutan, kemudian pemerintah akan menindaklanjuti dengan upaya untuk mendapatkan pengakuan dunia Internasional. Semoga budaya dan adat istiadat yang belum terdaftar dapat diinventarisir dengan baik oleh departemen bersangkutan.

      Suka

  2. Hm…. mencak-mencak seperti monyet dirampas barang miliknya? Begitukah?. Atau nanti sehingga bahasa Jawa atau Koteka-pun di klaim oleh Negara lain……..
    Agak berlebihan tuh. Tapi benar juga seh, apalagi budaya yang berbatasan langsung dengan negara lain semisal suku-suku di papua dan suku dayak di kalimantan. Kalimantan juga punya enggang, kalimantan juga punya dayak, kalimantan juga punya bunga kembang sepatu, tetapi sudah didahului negara lain mengakuinya….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s