Gus Dur, Perginya Sang Fenomenal

Standar

In Memoriam Kyai Haji Abdurahman Wahid.

WALAU kesehatannya tidak prima lagi karena stroke dan duduk di kursi roda sejak lama, wafatnya Adurrahman Wahid– presiden keempat Indonesia, sangatlah mengejutkan. Kita kehilangan seorang tokoh bangsa yang boleh disebut sang fenomenal.

Banyak julukan diberikan kepada mantan Ketua Umum PBNU itu. Tetapi paling jamak adalah guru bangsa. Dia mengabdikan dirinya demi bangsa. Bangsa yang tetap menjiwai dan dijiwai keanekaragaman.

Itulah integritas yang dipertahankan dengan seutuhnya dalam seluruh kehidupannya. Itu terwujud dalam pikiran dan tindakannya hampir dalam semua dimensi eksistensinya.

Dalam komitmennya yang penuh terhadap Indonesia yang plural, Gus Dur-begitu dia akrab disapa-muncul sebagai tokoh yang sarat kontroversi. Dia lahir dan besar di tengah suasana keislaman tradisional yang mewataki NU, tetapi di kepalanya berkobar pikiran modern. Bahkan dia dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan.

Ketika pemerintah Iran memfatwakan agar Salman Rusdie, pengarang buku Satanic Verse, ayat-ayat setan-harus dibunuh karena bukunya yang sangat menghina agama Islam, Gus Dur menuai kecaman di dalam negeri karena cenderung tidak melihat buku itu sebagai aib besar.

Pada masa Orde Baru, ketika militer sangat ditakuti, Gus Dur pasang badan melawan dwi fungsi. Sikap itu diperlihatkan ketika menjadi Presiden dia tanpa ragu mengembalikan tentara ke barak dan memisahkan polisi dari tentara. Dwifungsi tamat.

Gus Dur adalah pejuang paling depan melawan radikalisme agama. Ketika radikalisme agama sedang kencang-kencangnya Gus Dur menantangnya dengan berani. Dia bahkan mempersiapkan pasukan sendiri bila harus berhadapan melawan kekerasan yang dipicu agama.

Fenomena paling hebat adalah ketika Gus Dur yang buta dan berkursi roda mengalahkan lawan-lawannya yang sehat dalam perebutan kursi Presiden Indonesia keempat. Banyak yang menganggap terpilihnya Gus Dur waktu itu sebagai ironi besar bangsa Indonesia berpenduduk lebih dari 200 juta.

Tetapi ironi sesungguhnya — dan itu sangat fenomenal  — adalah kehebatan seorang buta dan lumpuh yang mampu melumpuhkan keperkasaan orang-orang sehat dan cerdas. Di kalangan pengagum fanatiknya Gus Dur adalah dewa.

Dia juga pejuang yang tidak mengenal hambatan. Dengan selentingan kesukaannya ‘begitu aja kok repot’ Gus Dur tidak menggampangkan persoalan. Justru itu memperlihatkan kejeniusan seorang Gus Dur menyelesaikan banyak hal pelik dengan mudah.

Gus Dur sebagai pejuang yang tidak pernah menyerah ditunjukkan dalam kehidupan keluarganya. Bersama istrinya yang juga berkursi roda, Gus Dur melakoni kehidupan dengan enteng. Dia begitu yakin bahwa pergaulan yang tidak mengenal batas primordialisme dengan semua anak bangsa adalah sumber rezeki dan alasan untuk optimistis.

Meninggalnya Gus Dur membuktikan sekali lagi betapa fenomenalnya dia. Berbagai kalangan ingin menjenguk jenasahnya walaupun tidak semua bisa. Ketika dia sebagai anak muda terpilih menjadi Ketua PBNU di masa Orde Baru, publik menerimanya sebagai kemenangan kita semua dari penindasan. Dan sekarang, ketika Gus Dur pergi untuk selamanya, seluruh anak bangsa merasakan kehilangan yang amat dalam.

Selamat jalan guru bangsa yang fenomenal.

Source : Media Indonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s