Hari Ini 103 Tahun Yang Lalu Indonesia Bangkit Perjuangkan Kemerdekaan

Standar

Ada yang masih ingat setiap tanggal 20 Mei kita memperingati hari apa? Masih belum ingat juga? Mari kita kembali ke 103 tahun lampau, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908 hari Minggu pagi pukul sembilan, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, ber-asal dari gagasan dr. Wahidin Sudirohusudo maka dr. Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Suraji dan mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi kepemudaan yang mereka beri nama BOEDI OETOMO (Budi utomo).

dr. Sutomo

Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata “politik” ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai “tanah air Indonesia” makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya “tanah air” (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.

Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman.

Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.

Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel “Als ik Nederlander was” (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda .  Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.

Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.  Bisa jadi, karena Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi massa pertama di Indonesia. Meskipun ada perdebatan untuk itu seperti beberapa literatur yang bernada sumbang mengenai Boedi Oetomo, di antaranya menyebutkan bahwa Boedi Oetomo a-nasionalis karena hanya memperjuangkan etnik Jawa dan Madura saja. Selain itu, anggota-anggota Boedi Oetomo adalah para mahasiswa dan lulusan STOVIA (sekolah kedokteran pada jaman penjajahan Belanda) dan kaum ambtenaar (pegawai pemerintahan Hindia Belanda). Beberapa hal ini belakangan menyebabkan keluarnya tokoh-tokoh penting Boedi Oetomo antara lain dr. Soetomo dan dr. Cipto Mangunkusumo.

Beberapa pihak mengklaim bahwa Sarekat Dagang Islam (SDI) justru lebih nasionalis karena beranggotakan tidak hanya Jawa dan Madura juga tidak hanya yang beragama Islam saja. Belakangan SDI yang menjadi Sarekat Islam (SI) malah menjadi lebih kacau balau karena terpecah-pecah bahkan muncul pula SI Merah. Soal berdirinya SDI ini juga masih menjadi perdebatan karena banyak pihak menyatakan bahwa SDI berdiri pada tahun 1912, namun banyak pihak berbeda mengklaim bahwa rintisan SDI telah dimulai pada 1905, tiga tahun sebelum Boedi Oetomo.

Namun dapat disepakati bahwa tonggak Kebangkitan Nasional adalah pada masa  Bangkitnya Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik tercinta ini yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang.

Dan sekarang ini mari kita serap semangat para tokoh Kebangkitan Nasional untuk bangkit dan terus berperjuang, mulai dari diri sendiri, dari lingkungan yang terkecil di sekitar kita.  Agar Indonesia dapat MERDEKA dalam arti kata yang sebenar-benarnya MERDEKA!.

Source : wikipedia/andy.web.id/berbagai sumber

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s