Inilah Tour Unik Ala Indonesia, Wisata Kemiskinan. Pak Menteri-pun Merasa Terhina!

Standar

Ronny Poluan yang jebolan Ikatan Kesenian Jakarta (IKJ) mengagas paket tur unik untuk para turis asing. Namun kali ini para bule tidak diajak melihat kemegahan Sudirman-Thamrin atau antiknya Kota Tua. Sebaliknya mereka malah menelusuri gang-gang sempit dan becek untuk berinteraksi dengan kaum miskin kota.

Protes pun datang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov DKI Jakarta. Ronny dinilai berada di luar kaidah wisata. Tur ala Ronny pun diyakini tidak bakal ditiru biro perjalanan wisata yang ada.

“Ternyata apa yang dilakukan Pak Ronny, bukan bagian dari biro atau agen perjalanan wisata. Kalau di dalam ketentuan, itu hanya dilakukan biro perjalanan wisata, tapi ini kan LSM,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov DKI Jakarta, Ari Budiman, dalam bincang-bincang dengan detikcom di Jakarta, Rabu (13/1/2009).

Belakangan ini, wisata kemiskinan Jakarta Hidden Tour (JHT) dari Ronny bersama Interkultur Komunitas Sosial Budaya, meramaikan media dan forum internet. Banyak pro kontra atas ide Ronny. Ronny malah mengusulkan agar idenya diadopsi biro travel wisata menjadi semacam paket perjalanan.

Menanggapi itu, Ari berpendapat sah-sah saja Ronny sebagai pribadi atau bagian dari LSM memiliki ide membuat paket wisata kemiskinan dengan mengunjungi kawasan kumuh di Jakarta. Namun bagi Ari menilai yang dilakukan Ronny adalah kerja komunitas dan tidak bisa dikatakan sebagai produk wisata.

“Serahkan saja ke mekanisme pasar. Tapi saya tidak yakin semua memilih paket itu (wisata kemiskinan). Umpama ada 1,5 juta wisatawan mancanegara masuk Jakarta, itu paling nol koma nol persen saja,” ujar Ari.

Ari mengaku, telah meneliti wisata kemiskinan yang dikelola Ronny. JHT bukan bagian dari biro perjalanan wisata yang berada di bawah naungan Association of Indonesian Travel Agency (ASITA).

“Menurut saya, ini bukan paket wisata. Tapi memang dimungkinkan seseorang mengelola orang-orang yang memiliki minat khusus untuk melihat wilayah kumuh di Jakarta. Tapi sebenarnya kalau berbicara tempat kumuh, kan tidak hanya di Indonesia saja. Di Amerika Serikat, Jerman dan Italia juga ada. Di negara mana pun di dunia ini kan ada daerah kumuhnya. Lalu kenapa kita heboh dan menampilkan itu,” ungkap Ari panjang lebar.

Oleh karena itu, lanjut Ari, dirinya tidak yakin bila paket wisata yang dikelola Ronny ini akan menyedot wisatawan asing untuk melihat ‘keindahan’ daerah kumuh itu. Dengan yakin, Ari mencontohkan, bila semua komunitas orang asing atau wisatawan yang berada di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat ditanyai atau disuruh memilih paket wisata, tentu tidak memilih berpergian ke tempat-tempat kumuh.

“Kalau mereka atau anda ditanya dan disuruh memilih, tentunya kita mempunyai sense atau rasa. Kita punya sesuatu yang dijual, ada yang berbahaya ada yang buruk, ada yang baik dan sebagainya. Jadi saya kira serahkan ke mekanisme pasar saja. Tapi saya tidak yakin semua memilih itu, karena lebih banyak hal atau sesuatu yang positif untuk dijual,” tegasnya.

Ari melanjutkan, wisatawan asing sebenarnya memiliki rasa empati terhadap persoalan kemiskinan ini. “Mereka merasa kok ada orang dari kalian seperti itu. Tapi mereka merasa tidak wellcome. Mereka lebih memilih paket wisata lainnya yang lebih humanis, soal kerukunan beragama dan budaya, itu yang mereka lebih pilih,” ucapnya.

Sementara Ronny memang punya pendapat berbeda. Dalam perbincangan lain dengan detikcom, Ronny mengatakan para turis sudah jenuh dengan kota Jakarta yang modern. Warga ibukota yang hidup miskin dinilai eksotis dan unik oleh para bule itu. Interaksi langsung dengan kaum miskin ini pun bisa menggugah kesetiakawanan sosial lintas bangsa.

Namun di sisi lain, Ari meminta Ronny lebih berhati-hati dan memahami persaingan pariwisata di Asia Tenggara secara utuh. Indonesia, Malaysia dan Singapura menjual pariwisata yang serupa dengan persaingan yang ketat. Ada semacam perang dingin untuk menggaet wisatawan asing sebanyak-banyaknya.

Paket wisata kemiskinan dinilai Ari, justru menjadi kelemahan di tengah upaya Indonesia mempromosikan pariwisata. Malaysia dan Singapura yang selalu menjual keindahan negara mereka akan merasa diuntungkan dengan adanya wisata kemiskinan di Jakarta.

“Dengan ide itu, saya kira mereka akan senang. Mereka menilai, kok ada warga yang menjelekkan bangsa sendiri. Tentu saja kita akan digilas kompetisi itu,” imbuhnya.

Ari menyayangkan jika ada yang merasa bangga dengan menampilkan kondisi kemiskinan seperti ini. Apalagi jika kondisi itu sampai dipolitisasi demi kepentingan tertentu. Ari yakin wisata kemiskinan tidak akan berkembang di dunia pariwisata masa depan. Wisata kemiskinan hanya merupakan bagian dari kerja-kerja komunitas saja untuk melihat kemiskinan tersebut.

“Mari kita buktikan, tahun depan tidak akan ada peningkatan peminat wisata seperti itu,” ujarnya.

Ari juga yakin, ide perjalanan menelusuri daerah miskin di Jakarta tidak akan diadiopsi oleh biro wisata lainnya. Mereka sudah menawarkan paket wisata yang lebih menarik di Jakarta. Sementara itu, beberapa waktu lalu seorang pejabat Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menilai wisata kemiskinan ini memiliki sisi positif untuk menggugah kepedulian masyarakat. Tidak semua turis asing mencari kesenangan, tapi juga minat sosial misalnya dari kawasan kumuh ibukota.

Pagi ini melihat berita di detik (Jero Wacik: Wisata Kemiskinan Menghina Kita), Menteri Jero Wacik merasa terhina dengan adanya jenis wisata kemiskinan yang digelar oleh Ronny Poluan, dengan menggiring para wisatawan asing ke sentra-sentra pemukiman kumuh di seputar Jakarta.

Tentu kita semua, warga ibu kota ini sudah terbiasa dengan tontonan mengenaskan yang ada di sekitar lingkungan kita. Saking terbiasanya, kita menganggap hal mengenaskan ini lumrah adanya. Inilah ampas dari sebuah modernitas, collateral damage dari sebuah ideologi pembangunan. Namun para turis bule itu pasti sulit mendapatkan tontonan ‘menarik’ ini di negeri mereka yang tergolong maju.

Ronny Poluan menyelenggarakan jenis wisata unik ini sejak tahun 2008, konon peminatnya cukup banyak. Bagi mereka yang sekedar hendak menengok kehidupan bawah dan ber-empati dengan hidup mereka yang susah, tentu wisata ini bisa menyegarkan nurani dan religiusitas mereka memaknai hidup yang kadang tak menentu. Roda berputar, mereka bisa jadi berganti kedudukan. Hidup memang tak bisa di-absolutkan.

Namun, kadar keterhinaan pak menteri perlu ada parameternya. Juga penyeimbangnya. Apakah memang wisata kemiskinan ini menghinakan nurani dengan standard yang semestinya, atau ternyata ini adalah sebuah cermin atas diri sendiri. Kalau wisata kemiskinan itu menghina kemanusiaan pak menteri, lantas apa atribut untuk sebuah kemewahan fasilitas yang diberikan kepada sang menteri itu sendiri?

Sebuah mobil dinas mewah bertajuk Toyota Crown Royal Saloon apakah bukan merupakan sebuah penghinaan juga? Apakah ia tidak mencabik perasaan para pembayar pajak yang susah payah menyisihkan sebagian penghasilannya demi untuk menunjukkan baktinya kepada negara? Mobil dinas berbanderol nyaris Rp 1,3 milyar itu tentu bahkan dijejalkan ke dalam mimpi para pemukim kumuh pinggir rel kereta tidak akan ngepas, apalagi terbayang.

Terhinanya pak menteri apakah sebuah aib yang memercik ke muka sendiri?

Wisata itu
Kemiskinan itu…
mobil dinas itu
Source : detik.Com / sumber lainnya

10 responses »

  1. subhanallah, negeri ku, sedih sekali jika masih banyak masyarakat kumuh yang hidup dibawah garis kemiskinan, semoga hal-hal seperti ini dapat segera diberantas, terimakasih atas artikelnya🙂

    Suka

  2. dgn tour ini masyarakat kelas bawah justru merasa sangat senang dgn kunjungan para turis2 itu krn ada org yg memperhatikan mereka sebaliknya para turis jg merasa senang dpt berinteraksi dan merasakan keramah tamahan org indonesia

    Suka

  3. saya, brapa waktu lalu saya melihat program ini di acara kinck Andy, program yang bapa rencanakan ini menurut saya, salah satu bentuk penomena yang sangat luar biasa, jarang sekali orang melihat keadaan dan kenyataan dibalik kota-kota besar di ibu kota kita, emang benar mereka adalah rakyat kumuh, yang bisa hanya melihat gi belakang, gedung besar, mereka sangat perlu diperkenalkan kepada bangsa kita dan para petinggi, ini bukan sama sekali memamerkan kemiskinan diindonesia ataupun jual wisata miskin, tapi ini adalah sebagai bentuk perjuangan rakyat dalm penderitan di garis kemiskinan yang ada, kita semua harus tahu dan mengenal mereka dan perhatian kepada mereka, program ini adalah salah bentuk merubah pola fikir kita dlam suatu keadaan, terimakasih bapak Ronny, saya setuju dengan,, program yang direncanakna,, semoga banyak insfirasi lagi untuk memperkenalkan,, saudara kita, untuk suatu persatuan bersama,,

    Suka

  4. Mudah2an ada pejabat indo juga yg ikut tour ini,…….biar tau rakyat sebenarnya bagaimana,kan selama ini mereka gak tau klo masih ada rakyat yg hidup dibawah garis kemiskinan…….

    Suka

  5. Ping-balik: KEMISKINAN INDONESIA : TOURING HINGGA BELAJAR KENEGERI KANGGURU « POPCORN LAW

  6. kunjungan pertemuan kemanusiaan jauh lebih baik dan penting ketimbang senang-senang semata, saling belajar akan hidup, dan kita dapat membantu orang miskin. Pertemuan sosial kemanusiaan akan mengkat harkat kemanusiaan kita

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s