Perhatian Bagi Yang Doyan Seafood : WWF Anjurkan Jangan Makan Udang dan Ikan Bawal

Standar

World Wide Fund for Nature meminta masyarakat tidak lagi mengkonsumsi udang dan bawal. Dua hasil laut yang mudah didapat di pasar-pasar itu masuk daftar merah yang harus dihindari dalam “Seafood Guide”

Udang dapat ponten merah karena kebanyakan berasal dari tambak yang tidak ramah lingkungan. “Menghabisi lahan mangrove,” ujar Ketua Program Perikanan WWF, Imam Musthofa, Kamis (16/6).

Sementara bawal, termasuk bawal hitam (Parastromateus niger) dan bawal putih (Pampus argenteus), harus dihindari karena semakin sulit ditemukan. Menurut Imam, nelayan membutuhkan waktu semakin lama dan melaut makin jauh untuk mendapat ikan tersebut.

Ketersediaan bawal di pasar-pasar, dia melanjutkan, tidak berarti amannya ketersediaan di laut. “Justru karena permintaan banyak, nelayan semakin terpacu mendapat bawal,” katanya.

Seafood Guide, panduan memilih hidangan laut, adalah daftar sekitar 70 spesies yang hidup di perairan Indonesia. Terbagi atas tiga kategori: hijau (aman), kuning (hidari, jika ada pilihan lain), dan merah (hindari). Penilaian berdasar ketersediaan di alam bebas dan cara tangkap. Daftar lengkapnya bisa dilihat di situs WWF Indonesia.

Organisasi konservasi global ini mengeluarkan daftar itu setahun sekali dan bisa berubah-ubah. Bawal, misalnya. Tahun lalu masih dalam status hijau.

Ada juga yang peringkatnya membaik, seperti kerapu. Tahun lalu ikan karang ini masuk kategori merah karena sulit ditemui. Setelah WWF gencar berkampanye penangkapan ikan ramah lingkungan di sentra-sentra penangkapan kerapu, seperti di Berau, Kalimantan Timur dan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, populasi kerapu meningkat. “Kini masuk kategori kuning,” kata Imam.

Menurut Direktur Marketing dan Komunikasi WWF Indonesia, Devy Suradji, Seafood Guide bukan melarang masyarakat makan ikan. “Tapi lebih bijak memilih seafood,” katanya. Sebab, dengan pola konsumsi sekarang, ketersediaan ikan di laut terus anjlok.

Data Pusat Riset Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010 menunjukkan 55 persen ikan di Indonesia tereksplotasi habis-habisan, overexploited, 24 persen lainnya tereksploitasi secara moderat, dan 21 persen sisanya belum teridentifikasi.

Source :  TempoInteraktif

5 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s