Paritku Sayang, Paritku Malang

Standar

Seharusnya Pontianak bisa lebih terkenal karena paritnya. Menurut SK Walikota Pontianak nomor 34 tahun 2004, parit di Kota Pontianak dikategorikan menjadi tiga bagian. Yakni parit primer, sekunder dan tersier. Secara keseluruhan, panjang parit primer yakni 187.474 meter, sekunder 102.045 meter dan tersier 97.700 meter (Pontianak Post, 22 November 2008). Sehingga di kota Pontianak terdapat 387.209 meter jaringan parit. Angka yang fantastis. Mungkin jarang ada kota di Indonesia yang mempunyai jaringan parit sepanjang itu di tubuh kotanya.

Parit adalah sebutan untuk sungai kecil khas kota Pontianak. Parit di Pontianak terdiri dari parit alam dan parit buatan. Tak banyak literatur tentang asal muasal parit di kota pinggiran Sungai Kapuas ini. Namun para tetua kota sering bercerita bahwa dulu parit masih bisa dilayari perahu hingga keliling kota. Ini berarti bahwa parit pernah berfungsi sebagai sarana transportasi selain sebagai tempat mandi dan cuci penduduk kota. Adanya Parit Kanal (Kanaal = saluran, dalam bahasa Belanda) di daerah Kuala Dua peninggalan Belanda membuktikan bahwa pada jaman penjajahan, Belanda turut membangun dan merencanakan parit sebagai pengendali banjir di Pontianak, meniru sistem kanalisasi di Belanda. Maklum, dengan tinggi 0,8 meter hingga 1,5 meter dpl (di atas permukaan laut) Pontianak sangat rentan banjir.

Tetapi jangan berharap sekarang ini Anda dapat melayari seluruh parit yang ada di Pontianak. Apalagi membayangkan Pontianak seperti Kota Amsterdam di Belanda dimana Anda dapat keliling kota melayari kanal dengan kapal wisata. Atau seperti Kota Venezia di Italia dimana Anda bersama istri atau kekasih Anda naik Gondola sambil menikmati pemandangan romantis menjelang senja di sepanjang parit yang ada. Kedua kota tersebut adalah contoh kota yang sangat memanfaatkan kehadiran sungai dan kanal sebagai daya tarik wisata.

Lihat kondisi parit yang ada di Pontianak. Di antara parit primer, mungkin hanya Sungai Jawi saja yang masih menampakkan sisa-sisa kejayaan parit sebagai sarana transportasi sungai. Sedangkan parit-parit lainnya sedang berjalan menuju kepunahan. Beberapa pembaca tentu masih ada yang ingat bahwa sepanjang Jalan Jendral Sudirman (Jalan Radio) pernah terdapat parit sekunder. Namun sekarang parit tersebut menghilang berganti menjadi bangunan ruko yang terbentang mulai dari Matahari Mall hingga Jalan Tanjungpura. Sedangkan parit di Jalan Diponegoro yang masuk kategori parit primer bahkan sudah tinggal separuhnya karena ditimbun untuk pelebaran jalan dan tempat parkir. Dan Anda bahkan tidak menyadari bahwa disepanjang jalan Gajah Mada terdapat parir sekunder di sisinya, sebab sekarang sudah ditutupi beton untuk memperluas lahan dan tempat parkir.

Parit dalam kota (Jl. Diponegoro Pontianak)

Parit di kota Pontianak boleh dianalogikan sedang dalam kondisi sakit dan sekarat. Pembenahan yang dilakukan pemerintah kota dengan membangun turap dan mengeruk beberapa parit primer maupun sekunder sebagai upaya memperindah kota sekaligus pencegahan banjir, masih sangat terbatas sebab terkendala dana. Prokasih (Program Kali Bersih) yang pernah diluncurkan pemerintah kota untuk meningkatkan kualitas air parit belum menampakkan hasil nyata. Perilaku penduduk kota (citizen) turut mempercepat kepunahan parit. Dengan cepat parit berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah warga kota. Parit menjadi tercemar, dangkal, dipenuhi sampah menghitam dan berbau. Belum lagi ketidak pedulian warga yang mendirikan bangunan di atas parit turut ‘berjasa’ menambah kumuh parit sekaligus kota.

Betapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mengembalikan kondisi parit ini. Jika kondisi parit di Pontianak merupakan bagian dari bentuk pencemaran air di seluruh Indonesia, maka menurut Kementerian Pekerjaan Umum, berdasarkan Laporan `Economic Impact of Sanitation in Indonesia` biaya pemulihan terhadap berbagai bentuk pencemaran air di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai Rp 13,3 triliun per tahun. Ini setara dengan biaya APBN alokasi bidang sanitasi untuk lima tahun (Antara News, 20 Juni 2011).

Tentunya semua menyadari bahwa biaya pengobatan (treatment) sangat mahal dibandingkan jika melakukan tindakan pencegahan (prevention). Namun tidak adil jika menyerahkan seluruh persoalan parit kepada pemerintah kota semata. Meskipun belum ada dilakukan penelitian, jika penduduk kota pontianak sebanyak 550.304 jiwa (Sensus Penduduk 2010) diasumsikan menghasilkan sampah rumah tangga minimal 1 kg/orang/hari, maka dalam satu hari paling kurang terdapat 550 ton sampah rumah tangga. Dan kalau minimal 5% saja dari jumlah tersebut dibuang langsung oleh warga kota ke dalam parit, maka 27,5 ton sampah setiap hari telah memenuhi dan mencemari parit-parit di ibukota provinsi ini.

Perilaku warga kota membuang sampah ke dalam parit bisa jadi lebih dikarenakan ‘putus asa’. Tidak tersedianya TPS (Tempat Pembuangan Sementara) sampah kerap dijadikan alasan. Pada beberapa titik pemukiman, lokasi TPS terdekat bisa mencapai 2 km jauhnya, sehingga membuat warga jadi berpikir ulang untuk menjinjing kantong penuh berisi sampah sejauh itu. Lalu munculah TPS-TPS ‘ilegal’, yaitu lokasi pembuangan sampah yang diangap warga strategis, misalnya di pinggiran jalan yang menyemak atau jalan yang agak sepi. Tetapi itu juga tidak mudah karena harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sebab biasanya telah dipasang rambu peringatan dengan tulisan besar-besar oleh petugas RT atau RW setempat. Mulai dari tulisan yang sopan seperti “MOHON TIDAK MEMBUANG SAMPAH DI SINI DEMI KEINDAHAN BERSAMA” hingga yang cukup sangar seperti “YANG BUANG SAMPAH DI SINI ANAK JIN”. Akhirnya memang paling praktis dan ‘ekonomis’ adalah membuangnya di parit terdekat.

Mengharapkan agar TPS tersedia di setiap tempat tentu sangat membebani pemerintah kota yang hanya punya armada pengangkut dan pengolah sampah terbatas, dengan kata lain dana yang minim. Menggalakkan 3 R (Reduce , Reuse dan Recycle) dapat sangat membantu. Reduce artinya mengurangi penggunaan bahan yang berpotensi menjadi sampah seperti kantong plastik yang berlebihan. Reuse atau memakai kembali berarti menggunakan kembali barang-barang yang masih layak kita pakai. Kalaupun misalnya Anda tak ingin menggunakan lagi, jangan langsung dibuang. Tapi dijual kembali atau diberikan kepada yang berhak. Dan Recycle artinya daur ulang. Daur ulang sampah anda. Atau jika Anda merasa repot, cukup kumpulkan sampah non organik pada satu wadah dan berikan kepada pemulung untuk kemudian diolah kembali.

Mengembalikan parit-parit di kota Pontianak menjadi bersih dan bebas sampah, mengutip Srimulat adalah ‘hil yang mustahal’. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kepedulian terhadap parit wajib digaungkan oleh pemerintah kota. Parit adalah keunikan kota Pontianak yang wajib dilestarikan. Fungsinya sebagai penampung banjir harus dikembalikan. Petugas-petugas RT/RW dikerahkan untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada warganya. Mereka dibekali pengetahuan tentang pengelolaan parit dan saluran limbah rumah tangga. Pengolahan sampah mandiri seperti membuat kompos dan produk daur ulang sampah juga diberikan. Setiap RT/RW yang ada di Pontianak didorong untuk mempunyai komitment terhadap pemulihan parit dan air. Tidak diijinkan membangun apapun di atas parit selain jembatan atau gertak, itupun dengan ukuran yang dibatasi. Pengembang wajib membuat skema pengolahan sampah dan sanitasi mandiri. Sementara industri maupun industri rumah tangga yang terbukti membuang limbah langsung ke dalam parit wajib mendapat sanksi tegas. Relawan-relawan dan kelompok warga pencinta parit perlu didukung. Berikan reward kepada kelompok warga yang berhasil menjaga parit mereka dari limbah dan sampah.

Sehingga ikan Gendang Gendis (Brachygobius Doriae), yaitu ikan kecil khas parit Pontianak berwarna hitam dengan tiga buah cincin kuning melingkar ditubuhnya, yang sangat langka ditemukan di seantero parit kota Pontianak, dapat kembali berkembang biak di antara tanaman air Hidrilla dan Teratai. Dan Andapun dapat kembali melayari parit-parit di kota Pontianak dengan kano ataupun jetski Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s