Garuda di Dadaku, Malaysia di Perutku

Standar

Sebuah berita menarik minatku.  Terbersit sedikit harapan bahwa banyak permasalahan akan mendapatkan penyelesaian. Sebab Pemerintah telah menganggarkan Rp3,85 triliun untuk kawasan perbatasan pada 2012, yang dialokasikan untuk 12 provinsi dan 38 kabupaten/kota yang yang berada di perbatasan.  Itu kata Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP), Sutrisno, di Jakarta, Jumat (17/2).

Wilayah-wilayah yang mendapat alokasi biaya perbatasan adalah Kalimantan Barat sebesar Rp 673,2 miliar; Kalimantan Timur Rp 303,007 miliar; Papua Rp 920,74 miliar; NAD Rp 52,42; Sumatera Utara Rp 58,58 miliar.

Wilayah lainnya adalah Kepri Rp 179,23miliar; Riau Rp 146,8 miliar; Sulawesi Utara Rp 383,06 miliar; NTT Rp 786,63 miliar; Maluku Rp 185,5 miliar; Maluku Utara Rp 115,53 miliar; dan Papua Barat Rp 44,474 miliar.

Sesuai Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun 2011-2014, maka dana itu akan diprioritaskan untuk lima agenda utama, yaitu :

Pertama : penerapan dan  penegasan batas wilayah negara.

Kedua : peningkatan pertahanan,  keamanan dan penegakan hukum.

Ketiga : pengembangan ekonomi kawasan.

Keempat : pemenuhan kebutuhan sosial dasar, dan

Kelima : penguatan kelembagaan.

“Nanti setiap kecamatan di perbatasan kita tangani langsung selama tiga tahun. Tahun 2012 ini sebagai tahap awal, dilanjutkan tahap kedua pada  2013 sebagai tahap lanjutan. Tahun 2014 sebagai tahap pemantapan,”  lanjut Sutrisno. Ini kata narasumber di BeritaSatu.com.

Tentunya berita yang baik. Sehingga aku mau sedikit sharing terhadap permasalahan yang dihadapi saudara-saudara kita yang setia mengibarkan sang saka merah putih di ‘pinggir’ halaman negeri ini, yaitu mereka yang tinggal di tapal batas negara.  Mereka yang halaman rumahnya berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Kebetulan aku beberapa kali berkunjung ke desa dan dusun paling ‘pinggir’ di Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat.  Meskipun yang dihadapi saudara-saudara kita di sana tidak sama dengan di kawasan perbatasan lainnya, namun setidaknya dapat dijadikan bahan pemikiran untuk merancang solusi terhadap permasalahan yang dihadapi daerah-daerah di kawasan perbatasan negeri ini, yaitu :

  • Transportasi menuju desa-dusun hanya bisa melalui sungai.  Perahu bermotor harus menempuh perjalanan hingga 9 (sembilan) jam lamanya untuk sampai ke desa terjauh.  Belum ada alternatif jalan darat, sehingga perjalanan ke ibukota kecamatan lebih lama dari pada ke desa terdekat di negara tetangga Malaysia.
  • Imbas terhadap harga bahan kebutuhan pokok yang lebih murah di negara tetangga, semisal harga gula, bawang putih hingga tabung gas petronas, menyebabkan mereka lebih menggunakan mata uang Ringgit sebagai nilai tukar.
  • Sekitar 15 Dusun warga yang menetap di sepanjang perbatasan Entikong Kabupaten Sanggau dengan penduduk rata-rata 700 jiwa, 30 persen di antaranya tidak bisa berbahasa Indonesia dan buta huruf. (kompas.com)
  • Sementara layanan pendidikan, kesehatan dan penerangan (listrik) jangan dibandingkan dengan desa terdekat di Malaysia.  Ungkapan ‘rumput di halaman tetangga memang lebih hijau’ sepertinya berlaku di sini.  Sekedar gambaran, desa paling terpencil di Malaysia dapat di tempuh dengan kendaraan roda 4, melewati jalan mulus beraspal dan telah di aliri listrik 24 jam.  Kabarnya setiap desa di sana telah memiliki fasilitas sekolah setingkat SMP dan fasilitas kesehatan setingkat Puskesmas yang berfungsi. Ya! berfungsi patut digarisbawahi, sebab di beberapa desa perbatasan, meski dalam radius yang cukup jauh ada juga SMP namun hanya dikelola oleh 1 atau 2 orang guru saja, sehingga aku pernah menemukan murid SMP yang baru jam 9 sudah pulang sekolah sebab tidak ada guru yang datang.  Atau Puskesmas yang beroperasi tidak setiap hari, namun tergantung kedatangan petugasnya dari kecamatan.

Garuda di dadaku

Walaupun demikan,  jangan menuduh mereka tidak nasionalis atau tidak cinta NKRI. Keadaan dan kondisilah yang menyebabkan mereka banyak tergantung terhadap negara di seberang halaman tersebut. Dan entah bermaksud berseloroh atau tidak, mereka sering mengatakan: GARUDA DI DADAKU, MALAYSIA DI PERUTKU.

Dan aku sangat berharap dana sebesar RP. 3,85 Triliun yang dianggarkan tahun ini, dapat menjawab sedikit masalah yang dihadapi saudara-saudara kita di tapal batas negara tercinta ini.

One response »

  1. Ping-balik: Inilah 10 Negara yang Bubar di Abad Ini, Menghilang dari Peta Bumi | dream indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s