Inilah Tradisi Unik bin Ekstrim Ala Indonesia

Standar

Bicara mengenai tradisi dan adat budaya Indonesia tiada habisnya dan senantiasa mengagumkan. Banyaknya suku bangsa di Indonesia turut melahirkan beragam tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun dan merupakan warisan nenek moyang mereka.  Beberapa diantara tradisi tersebut terlihat tidak biasa, unik, aneh bahkan ekstrim seperti ‘membangkitkan’ mayat, tradisi potong jari hingga yang bikin bulu kuduk berdiri yaitu adat potong kepala dari Kalimantan!. Lets check it out.

1. Mane’ne, Sulawesi Selatan

Tana Toraja adalah salah satu daerah yang dikenal karena berbagai ritual berbau mistis mereka. Salah satunya adalah Ma’nene, sebuah proses penghormatan untuk roh leluhur yang dilakukan dengan cara tidak biasa yaitu ‘membangkitkan’ mayat dari yang bersangkutan.

mane'ne

Caranya, setiap tiga tahun sekali kuburan leluhur sengaja digali dan dikeluarkan dari peti mati untuk didandani lengkap dengan gaun atau jas formal layaknya akan pergi ke sebuah pesta. Selanjutnya, mayat diarak keliling kampung oleh beberapa anggota keluarganya. Konon dahulu kala, mayat yang mengalami ritual ini akan bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri seakan ada kekuatan gaib yang menopangnya.

2. Debus, Banten

Debus merupakan sebuah aksi ‘melukai’ diri sendiri sebagai bentuk rasa percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan tubuh yang telah dipercayakan pada kita ini terluka. Konon, tradisi yang super berbahaya ini sudah dilakukan oleh Umat Islam sejak abad ke-16 silam hingga sekarang. Debus bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Sumut, Sumbar, hingga Jabar, namun yang paling terkenal adalah Debus Banten.

debus

Seperti yang sudah diketahui, aksi melukai diri sendiri ini sangatlah ekstrim, seperti menusuk diri dengan pisau, memakan gelas, menyayat lidah sendiri, makan api mentah-mentah dan berbagai macam hal ekstrim lainnya. Uniknya, para pelaku debus tersebut akan selamat tanpa sedikit pun perasaan atau ekspresi kesakitan.

3. Pasola, NTT

Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola”, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu (agama lokal masyarakat sumba).

pasola

Dalam permainan pasola, penonton dapat melihat secara langsung dua kelompok ksatria sumba yang sedang berhadap-hadapan. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen. Apabila terjadi kematian dalam permainan pasola, maka hal itu menandakan sebelumnya telah terjadi pelanggaran norma adat yang dilakukan oleh warga pada tempat pelaksanaan pasola.

4. Potong Jari, Wamena

Apa yang dirasakan jika salah satu anggota keluarga atau orang yang dicintai meninggal? Pastinya sedih, rasa duka dan ingin menangis? Hal atau perasaan galau seperti itu tak berlaku untuk warga Wamena, Papua.

wamena

Alih-alih menangis atau bersedih, warga Wamena diwajibkan untuk memotong jari tangan mereka sebagai bentuk kesedihan. Menurut informasi yang telah berkembang, pemotongan jari pada umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Akan tetapi jika yang meninggal adalah istri yang tak memiliki orang tua, maka sang suami yang harus menanggungnya. Masih belum diketahui apakah ritual yang dilakukan warga Wamena ini masih terus dilakukan hingga sekarang atau tidak. Ada yang tahu?

5. Ngayau, Kalimantan

Banyak cara yang dilakukan untuk mempertahankan suatu wilayah. Bisa dengan melakukan perang atau melakukan lobi. Tapi tahukah Anda jika dulu suku Dayak di Kalimantan mempunyai tradisi yang ekstrem dan membuat bulu kuduk merinding.

dayak

Tradisi itu disebut ngayau yakni memenggal kepala manusia!. Sadis dan kejam kedengarannya. Konon, mereka melakukan tradisi tersebut untuk mempertahankan atau memperluas wilayah kekuasaan. Perang dan memenggal kepala musuh sebagai bukti jika berhasil mempertahankan kekuasaan. Hanya pria dewasa saja yang kepalanya boleh dipenggal. Wanita dan anak-anak tidak di-kayau melainkan hanya dijadikan budak.
Kepala musuh akan dibawa ke pulang kemudian mereka melakukan upacara adat yang disebut tiwah, untuk menenangkan roh si musuh tadi. Para warga akan memberi sesaji agar roh itu tidak gentayangan dan membalas dendam. Namun tradisi ini mulai berubah seiring kesadaran untuk hidup damai dan sejahtera. Berdasar Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1874 tradisi ngayau dihilangkan agar tidak terjadi perselisihan di antara suku Dayak.

source : boombastic.com, wikipedia

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s