Puluhan Tahun Lalu Pesawat Buatan Indonesia Gegerkan Eropa

Standar

Jika dewasa ini bangsa Indonesia terkenal karena berhasil membuat pesawat sendiri melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) seperti pesawat N-219, ternyata puluhan tahun lalu pesawat ‘made in’ Indonesia sudah dikenal dan menggegerkan daratan Eropa.

Tepatnya pada 27 September 1935, pesawat buatan Asia menjejak roda di daratan Eropa untuk yang pertama kalinya di dunia. Pesawat ‘made in’ Indonesia itu berhasil terbang jarak jauh melewati beberapa benua, lalu mendarat mulus di Schipol, Amsterdam.

Made In Bandung, Menggegerkan EropaWalraven-2 pada Oktober 1936 (Wikimedia Commons, Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM)

Meskipun tidak dijelaskan tentang spesifikasi dan asal mesin, tetapi pesawat yang diberi nama Walraven-2 sesuai nama perancangnya ini  dibuat 100 persen di Indonesia, di suatu gudang di Jalan Pasir Kaliki, Bandung atas pesanan jutawan Khouw Khe Hien yang menginginkan pesawat udara untuk meningkatkan efisiensi kegiatan bisnisnya.

Bulan Maret 1934, Khouw memesan kepada Laurents Walraven, bagian desain teknik Militaire Luchtvaart-KNIL. Berdasarkan syarat kebutuhan Khouw, Walraven kemudian merancang pesawat cabin monoplane dengan sayap rendah yang aerodinamis, ramping, dilengkapi dua mesin—yang masing-masing berkekuatan 90 tenaga kuda.

Sebagai ‘pengrajin’ pesawat ditunjuklah Achmad bin Talim dan teman-temannya. Mungkin inilah untuk pertama kalinya Achmad bin Talim ‘membuat’ pesawat. Tetapi hasilnya sungguh menakjubkan! Sebuah pesawat W-2 yang tergolong model paling modern pada saat itu.

Sepuluh bulan kemudian, pada awal Januari 1935, Letnan Terluin melakukan penerbangan perdana pesawat Walraven-2 pesanan Khouw. Evaluasinya: menunjukkan kinerja baik, tanpa satu kesulitan apapun.

7086L-2-300x164

Sekitar dua minggu sesudahnya pada 28 Januari 1935, pesawat menerima registrasi penerbangan PK-KKH, yang diambil dari singkatan nama Khouw Khe Hien.

Dan pada September 1935, Walraven-2 melakukan penerbangan bersejarahnya ke daratan Eropa. Entah kenapa, Khouw memilih terbang dulu ke daratan Eropa. Padahal jaraknya lebih jauh dari daratan Tiongkok jika berangkat dari Indonesia.

Sang pengrajin pesawat Achmad bin Talim ternyata baru menginjakkan kakinya di Amsterdam tahun 1974, walau karyanya sudah mendarat di sana lebih dulu—September 1935.

Walraven-2 pun, menurut almarhum Achmad bin Talim, belum pernah diuji coba terbang jarak jauh di Pulau Jawa.

“Tahu-tahu ia berangkat ke Bandung lewat Batavia ke Eropa,” kenang Achmad, tahun 1981.

Sejarah tidak mencatat lagi bagaimana nasib pesawat Walraven-2 PK-KKH. Achmad bin Talim pun tidak ingat lagi. Meski ia masih sempat melihat si pesawat di salah satu hanggar Andir (sekarang Bandara Hussein Sastranegara), Bandung, sebelum ditinggalkan pemiliknya untuk selamanya.

Source : National Geographic Indonesia

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s