Wah! Ternyata Sianida ada di Dalam Makanan Kita Sehari-hari

Standar

Sianida tiba-tiba menjadi kata yang populer, juga menjadi kata kunci yang paling meningkat tajam diketik di Google sejak tahun 2004. Kasus kematian seorang wanita bernama Wayan Mirna Salihin (27 tahun) di awal tahun 2016 setelah menyeruput es kopi Vietnam merebak. Hasil otopsi Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bidokkes) Polda Metro Jaya yang memeriksa sampel dari lambung, hati, dan empedu Mirna memastikan bahwa Mirna terpapar racun sianida.

Dosis fatal sianida bagi manusia adalah 1,5 mg per kilogram berat badan. Sianida juga dapat menjadi pembunuh yang cepat: tergantung pada dosis, kematian terjadi hanya dalam 1 sampai 15 menit. Sianida akan bereaksi lebih cepat jika dihirup dan karena itu lebih berbahaya. Menghirup gas sianida, terutama di ruang yang berventilasi buruk, memiliki potensi bahaya terbesar.

Dalam bentuk gas, hidrogen sianida, digunakan oleh Nazi Jerman untuk pembunuhan massal di kamar gas selama Holocaust.  Pil Sianida tampaknya menjadi pilihan favorit mata-mata tempo dulu untuk bunuh diri ketika tertangkap musuh.

Tanpa disadari ternyata banyak makanan  sehari-hari kita mengandung racun sianida, meski dalam jumlah yang sedikit. Secara alami, ada beberapa bahan makanan yang menghasilkan sianida dosis rendah seperti singkong, kacang lima, kacang merah, bayam, kedelai, rebung, tapioka, kecambah millet dan almond. Begitupun dengan suplemen vitamin B12, ada yang mengandung sianida juga.

Biji buah-buahan  seperti aprikot, apel, dan buah persik juga diduga memiliki sejumlah besar bahan kimia yang dapat dimetabolisme menjadi sianida.

Walau sianida juga dapat ditemukan pada rokok dan asap kendaraan bermotor. Keracunan sianida pada manusia paling banyak dilaporkan adalah setelah mengkonsumsi singkong.
Mengingat racun sianida sangat berbahaya, haruskah kita membatasi atau bahkan menghentikan mengonsumsi makanan-makanan tersebut, atau ada cara lain untuk menetralisir efek negatifnya?

Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) seperti yang dikutip dari National Geographic Indonesia (14/1/16), tubuh kita bisa mengatasi racun sianida dalam dosis sangat rendah.  Namun sebaiknya kita menghindari makan bagian buah atau tumbuhan yang mengandung senyawa racun. Misalnya, makanlah hanya daging buah apel dan buang bagian tengah serta bijinya, karena bagian daging buah  yang dapat dimakan dari buah-buahan ini mengandung jumlah senyawa racun yang jauh lebih rendah dari yang terkandung di dalam biji atau lubang bagian tengahnya.

Cara lain menghindari efek sianida adalah dengan mengolah makanan dengan cara yang tepat sebelum dimakan.

Sebagai contoh, kacang lima mentah mengandung linamarin. Linamarin adalah suatu senyawa yang ketika dikonsumsi lalu terurai di dalam tubuh akan diubah menjadi hidrogen sianida. Memasak kacang lima selama 10 menit sudah cukup untuk membuatnya aman dikonsumsi.

Atau kacang merah mentah yang mengandung racun phytohaemagglutinin. Ini juga bisa  dinetralisir dengan cara memasaknya pada suhu didih selama 10 menit. Memasak kacang merah di bawah suhu didih bisa melipatgandakan kandungan racun.

Di dalam 1.000 mikrogram vitamin B12 suplemen sianokobalamin mengandung 20 mikrogram sianida. Namun, menurut ahli gizi Jack Norris dari AS, jumlah sianida di dalam sianokobalamin, secara fisiologis aman dikonsumsi. Mikrogram adalah jumlah yang sangat kecil  dibandingkan miligram. Ada 1.000 mikrogram di dalam satu miligram sehingga  jumlah sianida di dalam suplemen B12  masih jauh di bawah dosis yang bisa dikatakan beracun.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s