Parade 10 Burung Surga Endemik Indonesia yang Berpeluang Punah

Standar

Kita pasti sudah mengenal burung cantik elok bernama Cendrawasih yang menjadi kebanggan masyarakat Papua dan Indonesia pada umumnya.  Tentu sangat menarik untuk mencari tahu mengapa burung ini kemudian mendapat julukan sebagai Burung Surga.

Gambar-Burung-Cendrawasih-Yang-Terbang

Menurut catatan sejarah, burung Cendrawasih  pertama kali dibawa ke Eropa pada tahun 1522 oleh awak kapal Magellan sang Penjelajah Dunia. Menurut buku harian Antonio Pigafetta, burung yang sudah diawetkan itu adalah hadiah dari Sultan Bacan dari salah satu pulau di kepulauan Maluku untuk Kaisar Charles V. Selanjutnya hingga akhir tahun 1540-an pajangan burung ini “adalah pemandangan umum di lemari orang Eropa dan Turki”.

Teknik pengawetan agresif  bangkai burung yang digunakan pedagang pribumi di masa itu dengan memotong kaki dan sayap burung, menyebabkan para ilmuwan  eropa percaya bahwa burung ini tidak memiliki tulang, perut atau kaki. Burung ini kemudian di deskripsikan sebagai burung yang  berenang perlahan di antara awan, hidup hanya dengan meminum embun di langit dan sinar matahari.  Mereka tidak pernah mendarat  sehingga tidak memerlukan kaki.  Bahkan untuk berkembang biak sang betina meletakkan telurnya ke rongga khusus pada punggung jantan.  Sungguh burung yang luar biasa, ditambah lagi dengan ke elokan bulunya, maka burung ini kemudian diberi nama Burung Surga (Birds of Paradise).  Dan spesies Cendrawasih Kuning Besar yang terkenal itupun mendapat nama latin  Paradisaea apoda (apoda = tidak mempunyai kaki).

Bercirikan dengan warna bulu yang mencolok dan cerah, bulu berwarna kuning, biru, merah, dan hijau. Dengan warna-warna yang demikian mereka menjadi burung paling indah dan menarik di dunia.

Ada lebih dari tiga lusin spesies dalam keluarga Paradisaeidae, atau lebih dikenal dengan bird of paradise. Dari 13 Genus  burung  ini yang paling terkenal adalah anggota genus Paradisaea. Sayangnya keberadaan burung ini semakin berkurang seiring dengan banyaknya pembabatan hutan dan perburuan liar yang tidak bertanggung jawab, sehingga lambat laun mereka berpeluang punah di habitat aslinya.

Berikut parade gambar 10 Burung Cendarawasih, burung paling indah di dunia :

1. Cendrawasih Kuning Besar (paradisaea apoda)

paradisaea apoda

Cenderawasih kuning-besar adalah burung Cenderawasih berukuran besar, dengan panjang sekitar 43 cm, berwarna coklat marun dan bermahkota kuning. Tenggorokannya berwarna hijau zamrud dan bantalan dadanya cokelat kehitaman.

Inilah burung yang dikira bangsa Eropa sebagai burung surga yang tidak memiliki kaki (apoda).

 

2. Cendrawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor)

Mengenal Burung Surga Yang Tidak Mempunyai Kaki Dari Indonesia

Dikenal juga dengan sebutan the Lesser bird of paradise. Burung ini berukuran sedang dengan panjang sekitar 32 cm, berwarna merah-coklat dengan mahkota kuning dan punggung atas kuning kecoklatan.

Burung jantan memiliki tenggorokan berwarna zamrud-hijau tua, sepasang ekor panjang dan dihiasi dengan bulu hiasan sayap yang berwarna kuning di daerah pangkal ber warna putih di daerah luarnya. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, memiliki kepala ber warna coklat tua, dada berwarna putih dan tanpa dihiasi bulu-bulu hiasan.

 

3. Cendrawasih Jingga (Paradisaea Raggiana)

 Mengenal Burung Surga Yang Tidak Mempunyai Kaki Dari Indonesia

 

Burung inilah yang paling dikenali sebagai burung Cendrawasih.  Memiliki nama lain  Count Raggi’s bird of paradise.  Habitat burung ini ter- distribusi secara luas di Pulau Irian selatan dan timur laut. Memiliki panjang 34 cm panjang, berwarna merah-coklat keabu-abuan, iris kuning dan kaki berwarna cokelat keabu-abuan.

Burung jantan memiliki mahkota kuning, tenggorokan zamrud-hijau tua dan kerah kuning di antara tenggorokan. Warna bulu sayap bervariasi dari merah ke jingga tergantung subspesies. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, dengan muka berwarna coklat dan tidak punya bulu-bulu hiasan.

4. Cendrawasih Biru (Paradisaea rudolphi)

Mengenal Burung Surga Yang Tidak Mempunyai Kaki Dari Indonesia

Namanya mengingatkan nama salah satu angkutan Taksi di Indonesia. Burung ini berukuran sekitar 30 cm, berwarna hitam, iris warna coklat gelap, kaki abu-abu.

Burung jantan dihiasi dengan bulu sayap dengan dominasi warna ungu biru. Sehingga disebut juga dengan Cendrawasih Biru. Blue Bird of Paradise adalah burung endemik Papua Nugini. Daerah penyebarannya meliputi pegunungan tenggara Papua Nugini.

 

5. Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra)

 

paradisaea rubra

Kita menamakannya Cendrawasih Merah, panjang sekitar 33cm berwarna kuning dan coklat, serta berparuh kuning. Burung jantan dewasa bisa mencapai 72cm termasuk bulu-bulu hiasannya yang berwarna merah darah dengan ujung berwarna putih pada bagian sisi perutnya. Bulu muka berwarna hijau zamrud gelap dan diekornya terdapat dua buah tali yang panjang berbentuk pilin ganda berwarna hitam.

Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, dengan muka berwarna coklat tua dan tidak punya bulu-bulu hiasan. Merupakan endemik dari Indonesia, Cendrawasih Merah hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di kabupaten Raja Ampat, provinsi Irian Jaya Barat.

 6. Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica)

cicinnurus respublica

Cendrawasih Botak atau dalam nama ilmiahnya Cicinnurus respublica adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang sekitar 21cm long, dari marga Cicinnurus. Burung jantan dewasa memiliki bulu berwarna merah dan hitam dengan tengkuk berwarna kuning, mulut hijau terang, kaki berwarna biru dan dua bulu ekor ungu melingkar. Kulit kepalanya berwarna biru muda terang dengan pola salib ganda hitam. Burung betina berwarna coklat dengan kulit kepala biru muda.

Endemik Indonesia, Cendrawasih Botak hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di kabupaten Raja Ampat, provinsi Papua Barat. Pakan burung Cendrawasih Botak terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga kecil.

 

7. Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius)

Cicinnurus_regius
Burung jantan akan membawakan tarian yang indah dengan mengayun-ayunkan ekornya, mengepak-ngepakkan bulu perut putihnya yang membuatnya mirip bola kapas dan bandul akrobatik.

Karena tersebar luas dan umum ditemukan di habitatnya, Cenderawasih raja dievaluasi beresiko rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.

 

8.  Cendrawasih Panji (Pteridophora alberti)

Cendrawasih Panji

Cendrawasih Panji atau dalam nama ilmiahnya Pteridophora alberti adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang sekitar 22cm, dari genus tunggal Pteridophora. Burung jantan dewasa mempunyai bulu berwarna hitam dan kuning tua, dikepalanya terdapat dua helai bulu kawat bersisik biru-langit mengilap, yang panjangnya mencapai 40cm dan dapat ditegakkan pada waktu memikat betina.

9. Astrapia Ribbon-tailed (Astrapia mayeri)

astrapia mayeri

Ini adalah salah satu burung cendrawasih yang paling spektakuler. Namanya Astrapia Ribbon-tailed dan memiliki bulu ekor terpanjang dalam kaitannya dengan ukuran tubuh, panjangnya mencapai lebih dari tiga kali panjang tubuhnya. Panjang burung dewasa mencapai 32 cm dengan ekor burung jantan yang bisa mencapai 1 meter.

Burung jantan memiliki warna hitam dan hijau zaitun sedangkan burung betina berwana coklat. Burung jantan memilki ekor panjang berbentuk pita berwarna putih. Daerah penyebarannya ada di bagian tengah Pulau Irian.

10. Bidadari halmahera (Semioptera wallacii)

burung-bidadari-halmahera

Bidadari Halmahera adalah jenis cendrawasih berukuran sedang, sekitar 28cm, berwarna cokelat-zaitun. Cendrawasih ini merupakan satu-satunya anggota genus Semioptera. Burung jantan bermahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat dan warna pelindung dadanya hijau zamrud. Cirinya yang paling mencolok adalah dua pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya dan bulu itu dapat ditegakkan atau diturunkan sesuai keinginan burung ini. Burung betinanya yang kurang menarik berwarna cokelat zaitun dan berukuran lebih kecil serta punya ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan.

George Robert Gray dari Museum Inggris menamai jenis ini untuk menghormati Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris dan pengarang buku The Malay Archipelago, orang Eropa pertama yang menemukan burung ini pada tahun 1858.

Burung Bidadari halmahera adalah burung endemik kepulauan Maluku dan merupakan jenis burung cenderawasih sejati yang tersebar paling barat. Makanannya terdiri dari serangga, artropoda, dan buah-buahan.

source : wikipedia dan berbagai sumber

One response »

  1. Ping-balik: Bidadari Halmahera, Wallace dan Cikal Bakal Teori Darwin | dream indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s