Mandar Gendang, Burung Misterius Penghuni Pulau Halmahera

Standar

Seorang ahli ornitologi (ilmu yang mempelajari burung) Jerman Gerd Heinrich, yang mempersiapkan perjalanannya ke pulau Halmahera dan berjibaku pada semak jelatang, menuliskan mengenai burung misterius yang hidup di habitat rawa pohon sagu pada tahun 1930-an :

Saya sangat yakin belum ada orang Eropa yang pernah melihat burung ini dalam keadaan hidup, sebab hal itu membutuhkan ketangguhan dan niat yang kuat pada diri seseorang yang mana tidak saya temukan dengan mudah pada orang-orang. Habroptila terlindung oleh duri-duri yang mengerikan dari rawa-rawa pohon sagu … Dalam belantara duri ini, saya berjalan dengan bertelanjang kaki dan setengah bertelanjang badan selama berminggu-minggu.

Habroptila wallacii, adalah satu spesies burung yang sebelumnya hanya diketahui keberadaannya dari suaranya saja.  Sebelumnya tak banyak yang tahu keberadaanya, termasuk rupa dan bentuknya sehingga dijuluki “Invinsible Rail”  atau mandar yang tak terlihat.  Burung ini hanya dikenali dari suaranya saja yang seperti tabuhan gendang  perlahan, yang diiringi dengan bunyi tuk, tuk, tuk yang dibuat dengan kepakan sayapnya.   Konon menurut legenda lokal suara gendang dibuat oleh burung tersebut dengan memukul-mukul sebuah rongga pohon atau cabang dengan kaki-kakinya.  Gerd Heinrich mencatat nama lokal atau sebutan khas burung ini adalah “soisa”, yang berarti gendang, dan menggambarkan suaranya sebagai sebuah gendang yang terkendali yang terkadang berakhir dengan suatu jeritan melengking yang nyaring.

Mandar Gendang (bahasa Latin: Habroptila wallacii, bahasa Inggris: invisible rail, Wallace’s rail, drummer rail) hanya ada di Halmahera yang artinya tidak akan ditemukan di sudut manapun di dunia kecuali di Halmahera. Sejak teridentifikasi secara ilmiah tahun 1860, hanya enam lokasi di Halmahera yang pernah tercatat kehadirannya yaitu Sondo-sondo, Pasir Putih, Tewe, Fanaha, Weda, dan  Gani.

https://i0.wp.com/www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2014/07/Paulo-Alves.jpg

Spesies ini mendiami rawa-rawa lebat pepohonan sagu yang berdekatan dengan hutan. Bulunya didominasi warna abu-abu gelap, dengan kulit terbuka di sekitar matanya. Paruhnya yang panjang dan tebal serta seluruh kakinya berwarna merah cerah. Suaranya seperti tabuhan gendang yang perlahan, yang diiringi kepakan sayapnya. Karena sulit mengamati burung pemalu ini di habitatnya yang padat, maka informasi mengenai perilakunya juga terbatas.

Populasinya diperkirakan antara 3.500-15.000 ekor, dan area penyebarannya yang terbatas membuatnya digolongkan sebagai “rentan” oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Telah terjadi pengurangan habitat akibat pemanenan sagu dan pengalihan lahan basah menjadi persawahan, dan burung ini juga dimakan oleh penduduk setempat. Sarang yang digambarkan sebelumnya berada di daerah yang sering dikunjungi masyarakat setempat, sehingga mungkin saja burung ini telah lebih beradaptasi pada perubahan habitatnya dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Jika anda berkunjung ke Halmahera dan mempersiapkan diri  untuk menghadapi duri-duri yang mengerikan dari rawa-rawa pohon sagu … mungkin anda akan beruntung bertemu burung misterius ini.

Thanks to Wikipedia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s