Selamat!. Indonesia Peringkat Pertama Jumlah Perokok Terbanyak Di Dunia. Siapa yang Paling Beruntung dan Berbahagia?

Standar

Meskipun ini adalah data lama, namun pada 2015 silam The Tobacco Atlas telah merilis bahwa di Indonesia jumlah pria perokok umur di atas 15 tahun adalah 66%.  Dengan kata lain 2 dari 3 pria Indonesia berumur di atas 15 tahun adalah perokok aktif. Nah!.  Demikian dikutip dari Tribun Timur.com (25/5/2016). The Tobacco Atlas sendiri adalah jurnal yang diterbitkan oleh American Cancer Society bersama Word Lung Foundation.

Bandingkan dengan peringkat kedua terbanyak, yaitu Rusia dengan 60 persen pria perokok di atas 15 tahun. Peringkat tiga hingga sembilan, berturut-turut, yaitu China (53 persen), Filipina (48 persen), Vietnam (47 persen), Thailand (46 persen), Malaysia (44 persen), India (24 persen), dan Brasil (22 persen).

Bisa jadi ada yang menyangkal data tersebut, bahkan sebagian besar perokok tidak memperdulikannya. But the show must go on.  Merokok harus jalan terus, walau apapun yang terjadi.  Alasan demi kesehatan hingga alasan keuangan tak juga menjadi dasar kuat untuk berhenti merokok.

quit-smoking

Bagai kaum perokok atau sering diistilahkan sebagai ‘ahli hisap’, rokok adalah soal ‘seni’.  Yaitu seni kebersamaan dengan sang rokok itu sendiri.  Ahli hisap dan rokok seakan telah menjalin kesepakatan untuk saling membutuhkan.  Ahli hisap butuh rokok untuk dihisap, sementara sang rokok membutuhkan ahli hisap untuk menghisap. Wah! seakan simbiosis mutualisme telah diterapkan di antara mereka.  Hampa terasa dunia jika ahli hisap sehari saja tanpa kehadiran rokok di bibir hitam mereka.  Demikian pula sebaliknya, tiada gunanya rokok hanya teronggok di bungkusnya jika tidak berada disela-sela jari ahli hisap dalam keadaan menyala.  Sungguh, sejatinya mereka saling membutuhkan di kehidupan ini.  Nah!.

Memaksa ahli hisap untuk berhenti merokok adalah HIL yang MUSTAHAL jika meminjam istilah srimulat tempo hari, melainkan jika niat untuk berhenti datang dari keinginan mereka sendiri. Bukankan semuanya berawal dari niat.  Sebagaimana kalimat yang mashur dikutip “Innamal A’malu Binniyat”.

Sudahlah.  Mungkin kita hanya bisa mendoakan agar ahli hisap mendapat hidayah dan kembali ke jalan yang benar, eh.., maksudnya mereka segera meyudahi kebersamaan dengan sang rokok.  Sehingga dengan sendirinya para perokok pasif di sekeliling mereka juga akan kehilangan resiko dari dampak negatif asap rokok.

Namun dari prestasi Indonesia tersebut di awal, muncul pertanyaan menggelitik.  Jika terkait dengan dunia rokok sejak dari pemilik modal, petani tembakau, pabrik rokok, buruh pabrik, rumah sakit, pemerintah, distributor, pedagang rokok, bakul jamu, gerobak rombong yang juga menjual rokok hingga perokok atau ahli hisap tak terkecuali anak, istri, teman dan handai taulan ahli hisap dan juga tidak lupa anak, istri, teman dan handai taulan pemilik pabrik rokok termasuk anak, istri, teman dan handai taulan buruh tani tembakau dan buruh pabrik rokok serta para pihak yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan dunia per-rokok-an, maka siapakah pihak yang paling beruntung dan berbahagia jika Indonesia memiliki penduduk perokok terbanyak di dunia?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s