Pontianak hendak macet. Sama halnya dengan kota menengah lainnya di Indonesia. Jika kemacetan lalu lintas adalah salah satu indikator kota metropolitan, maka tidak diragukan lagi kota Pontianak sedang tumbuh ke arah sana.  Ruas jalan yang membentang di seantero kota perlahan mulai kewalahan menyediakan ruang bagi kendaraan yang mengantar  penduduk kota ke segala arah.  Terlebih pada jam sibuk di pagi, siang ataupun sore hari maka dibeberapa simpul pertemuan jalan akan terjadi tumpukan kendaraan yang terpaksa merangkak pelan sebab luasan badan jalan tidak  lagi sebanding dengan jumlah kendaraan yang lewat di atasnya.

macet

Pemerintah Kota maupun Pemerintah Provinsi tentunya sudah menyadari hal tersebut.  Ruas jalan yang telah ada terus menerus ditingkatkan kemampuannya walaupun harus dilakukan secara bertahap sebab dibatasi oleh anggaran belanja setiap tahunnya.  Topografi kota yang kurang dari 1 (satu) meter di atas permukaan laut turut menyumbang membengkaknya anggaran pekerjaan jalan, sehingga penanganan pekerjaan dirasakan tidak menyeluruh.  Badan jalan harus ditinggikan terlebih dahulu untuk antisipasi banjir sebelum kemudian baru dilebarkan, sementara daerah manfaat jalan (damaja) yang seyogyanya memang benar-benar dimanfaatkan untuk jalan banyak dirampas oleh pagar, perkarangan ruko maupun pedagang kaki lima termasuk lahan parkir.   Membebaskan lahan untuk peruntukan jalan kadang menjadi permasalahan sendiri yang tidak mudah untuk dilaksanakan.

Pontianak hendak macet. Membandingkan kemacetan kota Pontianak dengan kota lainnya mungkin belum saatnya, namun permasalahan macet di kota-kota besar tersebut sejak lama telah diketahui penyebabnya.   Sejak dari kondisi sosial ekonomi,  jumlah penduduk, luas wilayah, pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan panjang jalan hingga kurang idealnya moda angkutan umum.  Namun mengapa permasalahan kemacetan seakan tidak pernah terselesaikan.  Akankah kota Pontianak juga mengalami hal yang sama dalam beberapa tahun ke depan. Haruskah penduduk kota ini bersiap untuk menanggung dampak negatif dari kemacetan seperti banyak kehilangan waktu akibat lambatnya perjalanan, pemborosan energi sebab konsumsi BBM meningkat pada kecepatan rendah, keausan kendaraanpun menjadi lebih tinggi sebab harus membutuhkan waktu operasi yang lama untuk jarak yang pendek,  akibatnya pengeluaran penduduk bertambah sementara pendapatan cenderung tetap.  Belum lagi polusi udara yang ditimbulkan kemacetan hingga tingkat stress pengguna jalan, kelelahan dan gangguan emosional dapat berakibat serius bagi penduduk kota.

Menangani masalah kemacetan, seharusnya tidak bertujuan semata-mata untuk memperlancar arus lalu-lintas saja, tapi juga mesti berdampak positif terhadap ekonomi kota.  Sehingga pemecahan permasalahan kemacetan tidak melulu terletak pada peningkatan kapasitas jalan, keberpihakan pada moda angkutan massal  ataupun manajemen lalu lintas yang handal.  Melainkan penanganan kemacetan wajib dilakukan sejak dini sejak kota baru mulai ‘belajar hendak macet’ dari pada sudah ‘mahir macet’ seperti Jakarta misalnya yang walaupun punya anggaran belanja segudang sangat kewalahan mengatasi problem ini.

Pontianak hendak macet.  Tetapi justru sekaranglah saat yang tepat untuk mengantisipasi gelombang kemacetan di Kota Pontianak.  Kajian-kajian mengenai ikhwal kemacetan dipandang dari sudut perencanaan transportasi, regulasi ekonomi dan kebijakan politik harus dilakukan secara komprehensif.  Diskusi-diskusi secara kontinyu melalui forum terbuka perlu digelar oleh Pemerintah Kota maupun Pemerintah Provinsi dengan melibatkan berbagai unsur dan narasumber yang kompeten, sehingga dapat segera dideteksi apakah blueprint perencanaan yang selama ini diterapkan dapat menjawab permasalahan kemacetan hingga beberapa tahun ke depan.  Atau justru sebaliknya kita terpaksa bersiap menerima dampak negatif dari kemacetan sembari memaklumi dengan sedikit bangga hati bahwa kemacetan sesungguhnya adalah keniscayaan dari tumbuh kembangnya perekonomian di kota tercinta ini.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s