Sebagai sebuah ibukota sebuah propinsi yang cukup berkembang,  tidak banyak yang menyadari bahwa ternyata Kota Pontianak mempunyai masalah serius terhadap pintu masuk ke kota khatulistiwa  ini.

Tentu banyak yang sudah melupakan jika Februari 2011, KM Rahmatia Sentosa yang karam di muara Jungkat nyaris melumpuhkan ekonomi kota.  Kandasnya kapal yang memuat puluhan ribu zak semen  tersebut tak dinyana menyebabkan arus lalu lintas di sungai Kapuas menuju pelabuhan Dwikora menjadi terhalang.  Puluhan kapal yang hendak berlabuh terpaksa harus antri di mulut sungai, demikian pula sebaliknya kapal yang hendak berlayar terpaksa harus bersandar lebih lama di dermaga kota sebab terhalang bangkai kapal yang melintang di sungai.  Maklum, meskipun sungai Kapuas terbilang lebar ( > 500 m), namun akibat pendangkalan lumpur,  Kapuas hanya memiliki alur sungai  sempit yang dapat dilayari kapal-kapal besar.

Dapat dibayangkan betapa merana nasib kota ketika barang-barang kebutuhan ekonomi terputus suplainya. Keruan harga merangkak naik. BBM seketika menjadi langka. Selama puluhan hari kota Pontianak mencekam, seakan hubungan dengan dunia luar juga ikut terputus.   Tak terhingga kerugian yang dialami banyak pihak. Celakanya, tidak ada alternatif lain untuk masuk kota melalui jalur sungai.

Demikian pula yang terjadi baru-baru ini.  Pesawat Sriwijaya Air SJ-188  tergelincir dilandasan pacu Bandara Supadio ketika hendak menyudahi landingnya akibat guyuran hujan lebat pada Jumat (1/6).  Lagi-lagi kota Pontianak  menjadi tertutup bagi lalu lalang melalui udara.  Puluhan penerbangan ke dan dari Pontianak di tunda. Bandara terpaksa berhenti beroperasi.  Ribuan penumpang terlantar. Beruntung tak sampai 2 hari kemudian pintu masuk lewat udara ini sudah normal kembali.

Cukup mengherankan jika Pontianak hanya memiliki alur sungai yang sempit bagi lalu lintas kapal niaga dan tidak punya kemampuan (atau keinginan!) untuk mengeruk lumpur yang ada, padahal kapal keruk bukanlah sebuah peralatan yang langka.  Lebih takjub ketika menyadari landasi pacu di Pontianak ternyata semata wayang, tak sebanding dengan meningkatnya frekuensi penerbangan.  Dapat dibayangkan andaikata jalur sungai dan jalur udara terputus untuk jangka waktu yang lama, sementara tidak ada alternatif dermaga atau landasan pacu di kota ini.  Jangan-jangan Pontianak menjadi kota hantu, sebagaimana julukan kota ini dahulu kala.

Bagaimana dengan jalur darat? Oh ya. Jalan darat yang lumayan lancar jutru dari Sarawak Malaysia melalui tapal batas Entikong, padahal jalur luar negeri tidak signifikan terhadap pemenuhan konsumtif lokal penduduk kota.   Sedangkan Trans Kalimantan masih perlu waktu yang lama agar dapat dilewati hingga ke seantero Kalimantan, sebab masih beberapa segmen yang belum selesai dikerjakan.

Peristiwa tertutupnya jalan masuk ke Pontianak akibat sesuatu yang menghalanginya dapat disebut dengan istilah TESENGKANG dalam bahasa melayu Pontianak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s