Tag Archives: kalimantan barat

Unik, Provinsi ini Menggunakan Lebih Dari 164 Bahasa?

Standar

Tidak banyak ternyata yang menyadari bahwa ada provinsi di Indonesia yang penduduknya menggunakan lebih dari 164 bahasa dalam berkomunikasi sehari-hari. Provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat yang jika kamu melihat sosial budayanya, bagaikan melihat mozaik yang berdenyut dinamis. Bayangkan saja, terdapat 164 bahasa daerah, 152 di antara bahasa tersebut adalah bahasa sub suku Dayak dan 12 sisanya bahasa sub suku Melayu. Aneka ragam bahasa ini dituturkan oleh sedikitnya 20 suku atau etnis, tiga diantaranya suku asli dan 17 sisanya suku pendatang.

tugu-khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa

Dihuni penduduk asli Dayak dan kaum pendatang dari Sumatera, juga kaum urban dari China serta daerah lainnya di Indonesia. Suku yang Dominan Besar yaitu Dayak, Melayu, dan China. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, dan Batak. Kalimantan Barat yang dilintasi oleh garis imajiner khatulistiwa sehingga terkenal dengan tugu khatulistiwa-nya juga dijuluki Provinsi Seribu Sungai. Itu dikarenakan mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman. Sungai-sungai itu pun menyilangi kota dimana salah satunya yaitu sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas dengan panjang 1.143 km telah membagi kota menjadi dua dan menyediakan jalur transportasi penting dan bersejarah.

Sungai-Kapuas

Sungai Kapuas

Kalimantan Barat adalah tempat tepat untuk berwisata alam, agrowisata, juga wisata budaya. Di sini tersedia wisata alam berupa pemandangan alam pegunungan, pantai laut, danau musiman, hutan tropis dengan aneka ragam flora dan fauna, hingga air terjun yang indah di Pande Kembayung dan Riam Kanebak. Untuk wisata budaya, karena Kalimantan Barat memiliki latar belakang sejarah dan aneka ragam seni dan budaya yang unik dan menarik untuk disambangi.

Meskipun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut tetapi memiliki puluhan pulau besar dan kecil. Sebagian pulau kecil tersebut tidak berpenghuni dan tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna, berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Kalimantan Barat memiliki luas lebih dari 146.607 km dan memiliki kekayaan berbagai mineral serta batu permata. Iklim dominan di wilayah ini adalah tropis dengan suhu udara minimum rata-rata 220,9C dan maksimum 310,05C. Musim hujan ringan terjadi bulan Maret-Mei sementara hujan pada November-Januari.

source : pesona.indonesia.travel

Iklan

Prasasti Batu Bertulis Nanga Mahap, Penuh Misteri Di Tengah Belantara Kalimantan

Standar

Keberadaan sebongkah batu dengan volume lebih kurang 38 meter kubik di atas permukaan tanah ini memang menyimpan banyak misteri. Batu yang pernah diteliti oleh tim Puslitar dari Jakarta tahun 1982 lampau ini berukirkan ornamen berupa barisan keris (?) dan tulisan menggunakan huruf palawa, sehingga dapat diperkirakan bahwa batu tersebut diukir pada kisaran tahun 650 Masehi pada masa akhir Hindu dan awal Buddha. Astaga! Ternyata 2 abad lebih tua dari candi Borobudur  yang selesai dibangun pada tahun 824. Tulisan itu sendiri menggunakan bahasa sankskerta dan belum pernah dipublikasikan terjemahannya.

Batu yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Batu Bertulis ini ditemukan di Kampung Pait, Desa Sebabas, Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat. Yang mencengangkan bahwa batu tersebut berdiri tunggal di kawasan tersebut. Tak nampak batu-batu lain di sekitarnya. Dan lebih mengherankan lagi, tidak ada satupun kerajaan Hindu atau Budha di belantara ini pun dalam radius ratusan kilometer. Bahkan Kerajaan Kutai yang merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia terletak nun jauh di sebelah timur pulau Kalimantan ini.

pbbt

Batu penuh misteri di tengah belantara

Boleh jadi batu ini adalah satu-satunya batu bertulis (prasasti) di Kalimantan selain Prasasti Kutai yang terkenal itu. Dapat dipastikan bahwa batu ini tidak diukir oleh penduduk kampung, mengingat Suku Dayak yang bermukim di sekitar Batu Bertulis tidak memiliki budaya atau ketrampilan mengukir batu, apalagi menurut tetua kampung, pada saat kampung mereka dibuka, batu berikut ukirannya sudah berdiri di sana. Maklum saja, pada jaman dahulu suku Dayak memang suka berpindah tempat mengikuti pembukaan ladang mereka yang juga berpindah-pindah.

Lantas siapa yang mengukirnya?. Dengan maksud apa? Mengapa harus terletak jauh dari tempat asal mereka? Apa makna dari ukiran dan tulisan di batu tersebut?. Agaknya Prasasti Batu Bertulis Kampung Pait masih akan menyimpan misterinya sendiri.

Bagi anda yang tertarik untuk melakukan penelitian atau sekedar berkunjung, Prasasti peninggalan Kerajaan Hindu di tanah air ini terletak di Kampung Pait,Kecamatan Nanga Mahap. Dari kota Sekadau menempuh perjalan darat dengan kendaraan roda empat sejauh 60 km menuju ibukota kecamatan Nanga Mahap,setelah itu perjalanan dilanjutkan sekitar 18 km menuju lokasi menggunakan kendaraan roda dua melewati jalan sirtu dan rabat beton.

replika

Replika di Museum Pontianak

Namun jika anda belum mempunyai rencana atau waktu untuk berkunjung, maka anda dapat melihat Replika Parasati Batu Bertulis Kampung Pait di Plaza Museum Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

koleksi pribadi

Benarkah Pulau Simping Di Singkawang Adalah Pulau Terkecil di Dunia?

Standar

Wisatawan yang berkunjung ke Singkawang, Kalimantan Barat, bisa melihat dari dekat Pulau Simping, pulau yang diklaim sebagai pulau terkecil, tak hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Pulau ini berada di kawasan Sinka Island Park.

Papan petunjuk yang menerangkan mengenai Pulau Simping sebagai pulau terkecil itu ada di gerbang masuk Pulau Simping. Di papan itu tertulis bahwa Pulau Simping adalah pulau terkecil di dunia yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tetapi benarkah pernyataan tersebut? Apakah ada semacam Piagam atau Surat Resmi dari PBB yang memvalidasinya?.  Satu-satunya keterangan bahwa Pulau Simping adalah pulau terkecil di dunia dan diakui oleh PBB adalah papan petunjuk berwarna dasar hijau tersebut.  Dapatkan keterangan tersebut dipercaya?

Jika ditelusuri di internet menggunakan mesin pencari Google dengan memasukkan kata kunci “pulau terkecil di dunia”, akan keluar hasil pencarian beberapa tulisan yang menyebutkan Pulau Simping sebagai pulau terkecil di dunia.  Namun semua posting tersebut isinya hampir sama dan hanya mengacu pada papan petunjuk yang dibuat oleh pengelola lokasi tersebut.

Kemudian, jika digunakan kata kunci “the smallest island in the world”, banyak tulisan akan merujuk pada Bishop Rock yang terletak antara Britania Raya dan Laut Pasifik sebagai pulau terkecil. Di atas pulau itu hanya berdiri satu mercusuar.

Lantas darimana sebenarnya sumber yang mengklaim Pulau Simping adalah pulau terkecil di dunia. Mantan Lurah Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Singkawang, Bastian Bakri menjelaskan bagaimana proses terjadinya penyebutan Pulau Simping sebagai pulau terkecil.

“Awalnya kami, semua lurah dan kepala desa, diminta menginventarisasi pulau yang ada di wilayah kami. Saya memasukkan Pulau Simping yang dulu memang ada penghuninya, tetapi kemudian penghuninya berangsur pindah karena abrasi. Pulau itu lama-lama mengecil dan saya katakan ini mungkin pulau terkecil di Indonesia, bahkan di dunia,” kata Bastian.

Menurut Bastian, papan petunjuk itu dibuat oleh pengelola taman wisata alam Sinka Island Park. Direktur Utama Sinka Island Park Anthony Suwandi mengatakan, kawasan itu sebelumnya bukan merupakan tempat wisata. Saat dia berinvestasi dan mendapat cerita dari masyarakat setempat mengenai status Pulau Simping sebagai pulau terkecil, dibuatlah jembatan menuju Pulau Simping disertai penjelasan di papan pengumuman.

Just that it? Jika memang benar-benar ada dokumen resmi yang menyatakan status Pulau Simping, sebaiknya pengelola kawasan tersebut harus menampilkannya di depan umum agar tidak menimbulkan keragu-raguan.

Meskipun demikian ada beberapa kriteria yang dapat  mendukung klaim Pulau Simping, yaitu :

  1. Mempunyai ukuran yang kecil kurang dari 1 hektar.
  2. Pulau Simping adalah pulau sejati, artinya adalah daratan yang dikelilingi air laut dan tidak pernah tenggelam oleh pasang laut.
  3. Pulau Simping ditumbuhi pepohonan dan tumbuhan yang menyatakan bahwa pulau tersebut mempunyai tanah dan bukan melulu merupakan tumpukan batuan.
  4. Terdapat bangunan di atasnya yaitu sebuah klenteng kecil yang berdiri menghadap laut lepas.
  5. Mempunyai penghuni, meskipun hanya penghuni tidak tetap yaitu mereka yang rutin melakukan ibadah di klenteng kecil.
  6. Ada aktifitas kehidupan di pulau tersebut, yaitu mereka yang berkunjung ke kawasan Sinka Island Park dan mampir untuk menimati keindahan alam di pulau tersebut.

Narasumber : Kompas.com/berbagai sumber

 

Grandong, Mobil Matik Dari Desa

Standar

Jika secara sederhana kita memaknai mobil matik (matic) adalah mobil yang hanya mempunyai tuas transmisi gigi maju dan mundur saja, maka mobil yang dimaksud judul tulisan di atas dapat dikategorikan sebagai salah satu varian mobil matik.  Namun jangan membayangkan mobil matik  yang dimaksudkan  adalah mobil dengan transmisi gigi otomatis made in Jepang atau Eropa yang sekarang mulai membanjiri jalan-jalan di kota-kota besar Indonesia, sebab selain kurang cocok dioperasikan di desa pedalaman Kalimantan yang nota bene terpencil dan kurang didukung oleh infrastruktur jalan yang memadai,  juga dirasakan kurang bermanfaat sebab tidak bisa dipergunakan untuk mengangkut hasil pertanian.

Nah! Mobil matik ala desa ini banyak dipergunakan di desa Seponti, Kabupaten Kayong Utara (KKU) Kalimantan Barat.  Desa Seponti adalah salah satu desa Transmigrasi di Kalimantan Barat.  Sebagaimana desa yang bergantung terhadap hasil pertanian, tentunya di butuhkan moda transpotasi yang sesuai untuk kondisi geografis setempat.  Berangkat dari hal tersebut, mobil yang di sebut Grandong oleh penduduk setempat ini sungguh sangat berguna.

Menggunakan sasis dan kaki-kaki mobil bekas, Grandong digerakkan oleh mesin diesel satu silender bertenaga 16 pk.  Body mobil dibuat dari pipa besi yang dilas, sedangkan bak belakang dibuat dari kayu lokal. Mesin yang banyak digunakan adalah merek Dongfeng ini langsung dihubungkan ke shaft lintang (drive shaft) menggunakan fanbelt untuk menggerakkan roda-roda.  Gear Box dipasang  untuk gigi maju dan mundur, sehingga lengkaplah Grandong sebagai mobil pengangkut hasil bumi yang  inovatif, murah, tepat guna dan ……… matik!

Mobil matik dari desa

Grandong Matik

Garuda di Dadaku, Malaysia di Perutku

Standar

Sebuah berita menarik minatku.  Terbersit sedikit harapan bahwa banyak permasalahan akan mendapatkan penyelesaian. Sebab Pemerintah telah menganggarkan Rp3,85 triliun untuk kawasan perbatasan pada 2012, yang dialokasikan untuk 12 provinsi dan 38 kabupaten/kota yang yang berada di perbatasan.  Itu kata Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP), Sutrisno, di Jakarta, Jumat (17/2).

Wilayah-wilayah yang mendapat alokasi biaya perbatasan adalah Kalimantan Barat sebesar Rp 673,2 miliar; Kalimantan Timur Rp 303,007 miliar; Papua Rp 920,74 miliar; NAD Rp 52,42; Sumatera Utara Rp 58,58 miliar.

Wilayah lainnya adalah Kepri Rp 179,23miliar; Riau Rp 146,8 miliar; Sulawesi Utara Rp 383,06 miliar; NTT Rp 786,63 miliar; Maluku Rp 185,5 miliar; Maluku Utara Rp 115,53 miliar; dan Papua Barat Rp 44,474 miliar.

Sesuai Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun 2011-2014, maka dana itu akan diprioritaskan untuk lima agenda utama, yaitu :

Pertama : penerapan dan  penegasan batas wilayah negara.

Kedua : peningkatan pertahanan,  keamanan dan penegakan hukum.

Ketiga : pengembangan ekonomi kawasan.

Keempat : pemenuhan kebutuhan sosial dasar, dan

Kelima : penguatan kelembagaan.

“Nanti setiap kecamatan di perbatasan kita tangani langsung selama tiga tahun. Tahun 2012 ini sebagai tahap awal, dilanjutkan tahap kedua pada  2013 sebagai tahap lanjutan. Tahun 2014 sebagai tahap pemantapan,”  lanjut Sutrisno. Ini kata narasumber di BeritaSatu.com.

Tentunya berita yang baik. Sehingga aku mau sedikit sharing terhadap permasalahan yang dihadapi saudara-saudara kita yang setia mengibarkan sang saka merah putih di ‘pinggir’ halaman negeri ini, yaitu mereka yang tinggal di tapal batas negara.  Mereka yang halaman rumahnya berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Kebetulan aku beberapa kali berkunjung ke desa dan dusun paling ‘pinggir’ di Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat.  Meskipun yang dihadapi saudara-saudara kita di sana tidak sama dengan di kawasan perbatasan lainnya, namun setidaknya dapat dijadikan bahan pemikiran untuk merancang solusi terhadap permasalahan yang dihadapi daerah-daerah di kawasan perbatasan negeri ini, yaitu :

  • Transportasi menuju desa-dusun hanya bisa melalui sungai.  Perahu bermotor harus menempuh perjalanan hingga 9 (sembilan) jam lamanya untuk sampai ke desa terjauh.  Belum ada alternatif jalan darat, sehingga perjalanan ke ibukota kecamatan lebih lama dari pada ke desa terdekat di negara tetangga Malaysia.
  • Imbas terhadap harga bahan kebutuhan pokok yang lebih murah di negara tetangga, semisal harga gula, bawang putih hingga tabung gas petronas, menyebabkan mereka lebih menggunakan mata uang Ringgit sebagai nilai tukar.
  • Sekitar 15 Dusun warga yang menetap di sepanjang perbatasan Entikong Kabupaten Sanggau dengan penduduk rata-rata 700 jiwa, 30 persen di antaranya tidak bisa berbahasa Indonesia dan buta huruf. (kompas.com)
  • Sementara layanan pendidikan, kesehatan dan penerangan (listrik) jangan dibandingkan dengan desa terdekat di Malaysia.  Ungkapan ‘rumput di halaman tetangga memang lebih hijau’ sepertinya berlaku di sini.  Sekedar gambaran, desa paling terpencil di Malaysia dapat di tempuh dengan kendaraan roda 4, melewati jalan mulus beraspal dan telah di aliri listrik 24 jam.  Kabarnya setiap desa di sana telah memiliki fasilitas sekolah setingkat SMP dan fasilitas kesehatan setingkat Puskesmas yang berfungsi. Ya! berfungsi patut digarisbawahi, sebab di beberapa desa perbatasan, meski dalam radius yang cukup jauh ada juga SMP namun hanya dikelola oleh 1 atau 2 orang guru saja, sehingga aku pernah menemukan murid SMP yang baru jam 9 sudah pulang sekolah sebab tidak ada guru yang datang.  Atau Puskesmas yang beroperasi tidak setiap hari, namun tergantung kedatangan petugasnya dari kecamatan.

Garuda di dadaku

Walaupun demikan,  jangan menuduh mereka tidak nasionalis atau tidak cinta NKRI. Keadaan dan kondisilah yang menyebabkan mereka banyak tergantung terhadap negara di seberang halaman tersebut. Dan entah bermaksud berseloroh atau tidak, mereka sering mengatakan: GARUDA DI DADAKU, MALAYSIA DI PERUTKU.

Dan aku sangat berharap dana sebesar RP. 3,85 Triliun yang dianggarkan tahun ini, dapat menjawab sedikit masalah yang dihadapi saudara-saudara kita di tapal batas negara tercinta ini.