Tag Archives: naik haji jalan kaki 9000 km

Kisah Luar Biasa Khamim, Pemuda Pekalongan yang Berjalan Kaki ke Mekah

Standar

Rukun Islam yang ke 5 adalah kewajiban umat muslim untuk beribadah haji atau berziarah ke baitullah Mekkah di bulan Zulhijjah, yaitu bulan terakhir dalam kalender Isam. Cukup sekali seumur hidup. Namun ada beberapa persyaratan haji yang disyaratkan yaitu Islam, berakal sehat, baligh, dan mampu.  Nah,  syarat mampu ini lebih ditujukan kepada kemampuan sesorang untuk membiayai perjalanan dan akomodasi ibadah haji yang nilainya tidak sedikit.  Sehingga banyak kaum muslimin yang belum mampu melaksanakan rukun ini.

Namun keputusan luar biasa diambil Mochammad Khamim Setiawan. Pria berusia 28 tahun ini bertekad bulat untuk memulai perjalanannya ke Mekah dengan berjalan kaki dari Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Hingga saat ini Khamim telah berjalan kaki hampir satu tahun lamanya dalam perjalannya menuju ke Mekkah. Khamim memiliki alasan kenapa harus berjalan kaki ribuan kilometer untuk menjalankan Rukun Islam kelima itu. Katanya, dalam Alquran disebutkan, berjalan adalah bentuk murni dalam ibadah haji. Menurutnya,  semua  manusia hanyalah tamu Tuhan di bumi, karena itu dengan ikhlas ia memulai perjalanannya.

Dilansir dari laman Khaleejtimes (19/5) media yang berkedudukan di Dubai ini  menayangkan tajuk “A year-long walk from Indonesia to Makkah”.  Diberitakan Khamim memulai perjalanannya lebih dari 9.000 km pada tanggal 28 Agustus 2016 lalu dengan berbekal beberapa kemeja, dua celana, dua sepatu, 12 pasang kaus kaki, beberapa pakaian dalam, kantong tidur dan tenda, obor portabel, ponsel cerdas dan GPS.

khamim

Semua barang bawaannya ia kemas dalam satu ransel yang dihiasi dengan bendera mini Indonesia, dan mengenakan baju yang berbunyi “I’m on my way to Mecca by foot” (Saya dalam perjalanan ke Mekah dengan berjalan kaki).

Saat memutuskan perjalanannya, Khamim menghindari semua hal yang berbau duniawi. Salah satunya meninggalkan bisnisnya di Indonesia. Sebagai informasi, Khamim memiliki gelar sarjana ekonomi dari Universitas Negeri Semarang dan memiliki perusahaan kontraktor yang cukup berkembang. Sehingga, ia hanya membawa beberapa lembar rupiah di sakunya.

Alasan yang mendasari perjalanannya semata adalah untuk menguji kekuatan fisik dan spiritualnya. Dan yang lebih penting lagi, untuk berbagi pesan harapan, toleransi dan harmoni.

“Saya percaya bahwa melakukan haji bukan hanya demonstrasi solidaritas dengan orang-orang Muslim,” kata Khamim dalam obrolan di Konsulat Indonesia di Dubai, beberapa waktu lalu.

Berjalan kaki ribuan kilometer, Khamim dengan caranya menunjukkan ketaatannya kepada Allah (SWT). Karena itu dalam perjalannya ia mempelajari Islam dari cendekiawan Muslim serta orang-orang dengan berbagai macam keyakinan yang ia temui di jalan, sekaligus mempelajari budaya mereka dan memahami toleransi.

“Saya juga melakukan jihad yang lebih besar, yang mendisiplinkan diri saya dan mengatasi perjuangan spiritual melawan dosa,” ujarnya.

Yang menarik, Khamim juga melakukan puasa setiap hari sepanjang perjalanannya dan dalam lima tahun terakhir, kecuali selama libur keagamaannya.

Sebelum perjalanannya, Khamim mengatakan  ia menghabiskan dua minggu di hutan Provinsi Banten di Indonesia untuk berlatih dan pengondisian fisik. Dia juga menghabiskan beberapa minggu di masjid untuk penguatan spiritual.

Karena berpuasa, Khamim hanya melakukan perjalanan di malam hari, mencakup setidaknya 50 km setiap hari saat dia dalam kondisi baik. Jika ia merasa lututnya lemah, ia hanya berjalan sejauh 10-15 km.

Sepanjang perjalanan, Khamim mengalami dua kali jatuh ketika ia berada di India dan Malaysia. Khamim hanya makan makanan halal dan tidak mengonsumsi suplemen makanan. Andalannya hanya madu dicampur dengan air untuk membangun kekebalan tubuhnya terhadap cuaca buruk.

Dia menuturkan tidak pernah bertemu dengan perampok di jalan, tapi setidaknya bertemu ular berbisa tiga kali di hutan Malaysia. “Tapi secara ajaib, sebelum mereka bahkan bisa menggigit saya, mereka tiba-tiba terjatuh dan mati,” ujarnya.

Sepanjang jalan Khamim tidak pernah berharap mendapatkan makanan gratis di jalan, namun ia mengaku sering bertemu dengan dermawan yang memberinya makanan dan bekal.

“Saya disambut di sebuah kuil Budha di Thailand, orang-orang desa di Myanmar memberi saya makan, saya belajar dan bertemu dengan ilmuwan Muslim dari berbagai negara di masjid Jamaah Tabligh di India; dan saya berteman dengan pasangan Kristen Irlandia yang mengendarai sepeda di Yangon,” kenangnya.

Saat ini Khamim masih melakukan perjalanan. Sabtu 3 Juni 2017 lalu ia mampir ke KBRI Abu Dhabi untuk menunggu visanya. Dari sana, dia akan melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Khamim berharap sudah mencapai kota suci umat Islam itu sebelum 30 Agustus tahun ini.

Baginya, kesempatan bertemu orang-orang baik dalam perjalanannya merupakan anugerah Tuhan. Sebab pertemuan itu membuatnya terus bisa lanjutkan perjalanan, meski tak miliki banyak uang. Perjalanan 9.000 kilometer ini rencananya akan berakhir di Mekah pada 30 Agustus 2017 nanti, atau sehari sebelum Idul Adha. Saat itu sekaligus menjadi penanda, akan setahun perjalananya dengan berjalan kaki ke Mekah.

Sudah selayaknya Khamim menjadi panutan bagi kaum muda Muslim atas kerendahan hati, spiritualitas, inklusivitas dan tekadnya.

 

Source : dari berbagai sumber

Iklan